Makam Raja-raja mataram di Yogyakarta

Miniatur/peta pemakaman Raja-raja Imogiri (foto : .infohomestay)

Miniatur/peta pemakaman Raja-raja Imogiri (foto : .infohomestay)

TERASWARTA – Wisata Religi | Komplek pemakaman raja-raja yang ada di Imogiri, Bantul, Yogyakarta adalah salah satu tempat wisata religi yang sampai saat ini menjadi tujuan para peziarah dari berbagai kota di Indonesia khususnya yogya dan solo yang memang sangat berhubungan erat dengan budaya kekeratonan berikut segala tata cara yang lelekat di dalamnya. Sebuah areal pemakaman yang memang disakralkan lantaran komplek pemakaman ini adalah sebagai tempat pemakaman bagi para kerabat istana baik yogyakarta maupun surakarta. Meski kemudian siapa saja memang boleh berkunjung ke tempat ini kapan saja untuk berwisata religi meski tidak sampai ke dalam komplek inti pemakaman.

Untuk melakukan ziarah secara khusus arela pemakaman ini dibuka  setiap Jumat dimulai pukul 13.00 siang, pada hari senin mulai pukul 10.00 pagi dan pada hari minggu mulai pukul 10.00 pagi. Sedang untuk memasuki lokasi makam di bagian dalam harus menggunakan pakaian sesuai adat dan tata cara tertentu. Jika tidak menaati ini maka seseorang itu hanya boleh masuk sampai pada pintu pertama.

Komplek pemakaman yang terletak di atas perbukitan ini  juga dikenal dengan Pajimatan Girirejo Imogiri ini sendiri di bangun pada tahun 1632 oleh Sultan mataram III Prabu Hanyokrokusumo. Beliau adalah keturunan dari panembahan senopati Raja Mataram I.  Sebuah keterangan yang juga ditulis oleh wikipedia Indonesia. Maka tidak mengherankan tentunya jika tempat ini sungguh disucikan oleh masyarakat Yogyakarta dan Surakarta pada umumnya.

Banyak sekali kisah yang menceritakan tentang sisi mistis tempat ini seperti pada jumlah anak tangga yang sampai sekarang menurut banyak keterangan tidak ada yang tahu pasti berapa jumlahnya. Dari setiap pengunjung yang mencoba menghitungnya apabila diungkapkan dengan yang lain memiliki jumlah yang saling berlainan.

Konon komplek makam ini juga di bangun atas dasar petunjuk dari Sunan Kalijaga. Hal lain juga banyak yang menuliskan bahwa Sultan agung membangun ini atas inspirasi yang didapat saat Beliau menunaikan Ibadah haji di Makkah dan melihat makam Nabi. Sultan Agung mendapatkan inspirasi juga berdasar kebiasaan ibadah jumroh. Maka diceritakan Sultan agung pada saat pulang kemudian mencari lokas makam ini dengan cara melempar batu yang kemudian jatuh mengarah  pada kawasan pegunungan seribu di wilayah bantul ini.

Anda yang berkunjung di salah satu wahana wisata religi ini juga bisa mendapatkan keterangan yang lebih banyak melalui para pengantar yang akan menyambut anda dengan senang hati serta berkisah dari awal sampai seperi apa komplek pemakaman para kerabat kerajaan yang sakral ini.