Ilustrasi
TERASWARTA – Ekonomi | Pergerakan Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) dan rupiah serempak mengalami penguatan. Hal ini terjadi pasca rilis data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tentang deflasi bulan September sebesar 0,35 persen. Sedang inflasi tahun kalender (Januari – September) sekitar 7,57 persen dan laporan secara year on year (yoy) sebesar 8,40 persen.
Membaiknya kondisi ini menunjukkan mulai terkendalinya beberapa sentimen negatif seperti kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, kebutuhan pangan dan neraca perdagangan bulan Agustus yang mengalami surplus 130 juta dollar AS. Terdapat tiga hal yang penting di Indonesia yang selalu mempengaruhi ekonomi domestik yaitu neraca perdagangan, inflasi dan perlambatan ekonomi internal.
Prediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, titik support berada di area 4.300 hingga 4.325 sedang titik resistance di area 4.368 hingga 4.387. Laju yang bertahan di atas level support dan mendekati level resistance menunjukkan bertahan dari pelemahan dan diharapkan melanjutkan kenaikan. Diharapkan pula tidak terjadi aksi ambil untuk yang membuat IHSG kembali melemah.
Beberapa rilis data dalam negeri dan Asia turut membantu sentimen terhadap IHSG dimana bursa Asia berbalik arah menguat.
Sentimen positif yang terjadi saat ini diharapkan mempunyai dampak signifikan ke depan dan membawa rupiah kembali memiliki potensi penguatan terhadap dollar AS. Data eksternal yang turut mempengaruhi laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah saat ini yaitu kejatuhan Dow Jones kemarin dan melemahnya dollar AS terhadap beberapa mata uang dunia seiring adanya kesepakatan APBN Amerika Serikat.
Data-data ekonomi baik makro ataupun mikro berpengaruh terhadap laju IHSG dan rupiah. Data eksternal juga mempunyai pengaruh yang signifikan dimana negara ini harus tetap bersiap dan mempunyai kebijakan yang baik untuk masyarakat.