Klothekan

 

Dolanan Kothekan

Dolanan Klothekan

TERASWARTA – Opini | Pagi sampai sore biasanya anak-anak ini belajar di sekolah. Kegiatan sore sesudah sekolah tergantung dari masing-masing anak, ada yang membantu mencari rumput untuk hewan peliharaan orang tuanya, ada yang membersihkan halaman rumahnya ataupun bertemu dengan teman tetangganya seperti yang terlihat dalam foto ini.

Mereka  bermain dengan menggunakan kentongan. Sebuah alat bunyi-bunyian yang biasanya terbuat dari bambu atau kayu yang pada masa lalu bahkan sampai saat ini masih digunakan sebagai salah satu alat kounikasi semisal sebagai penanda waktu, penanda ronda atau juga penanda sebuah bahaya.  Permainan tak cukup di sini saja masih ada alat lain seperti  jirigen plastik juga kaleng-kaleng bekas. Alat pemukulnya dari  kayu/bambu ataupun apa yang ditemui disekitar mereka.

Dengan memukul kentongan dan jirigen plastik, mereka bisa menghasilkan irama musik yang diinginkan. Kentongan biasanya mendominasinya: Thek..Thok…Thek..Dong….Dhong..Thek..Dhong ..Thok…Dhong..Thek..Thok..Dhong..yang sesekali diselingi dengan pukulan jirigen palstik dan jirigen plastik satunya dipukul secara terus menerus.

Karena bunyi pukulan itu, sehingga banyak yang menamakan Klothekan. Tampak sederhana memang namun dari bermain klothekan ini tanpa disadari anak-anak ini telah belajar bagaimana membuat sebuah irama yang teratur, irama yang tertata meski dari bermacam alat. Lebih dari itu anak-anak ini juga berlatih bagaimana berperan pada alat yang mereka pakai siapa yang harus lebih dulu memukul alatnya, menanti yang jadi bagiannya serta berlatih memimpin bagi mereka yang akan menentukan irama yang ingin didapat.

Sebuah permainan tradisional masa lalu yang sarat makna. Mungkin saat ini masih ada di desa-desa namun tentu tak banyak dibandingkan dengan dulu.

ditulis oleh : Ag. Yogiyono – Brisbane, Australia