“Kandang Menjangan” Krapyak

foto : kratonpedia.com

foto : kratonpedia.com

TERASWARTA – Wisata | Pernahkah Anda ke kota Yogyakarta pergi ke alun-alun kidul kemudian berjalan terus ke arah selatan, melewati perempatan “Plengkung Gading” dan terus lurus ke sana? Anda akan menemukan sebuah bangunan yang berbentuk segi empat yang berdiri tepat di tengah jalan. Inilah yang di sebut masyarakat sebagai kandang menjangan atau panggung Krapyak. Bangunan yang memiliki luas 17,6 m x 15  m. Melihat bentuknya bangunan ini adalah sebuah benteng bertahan atau menara pengawas untuk musuh yang hendak menuju keraton Yogyakarta.Sebuah bangunan yang didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I.

Dahulu kala tempat yang saat ini begitu padat penduduk ini adalah kawasan hutan yang sangat lebat. Tentu saja menjadi salah satu tempat yang baik bagi berbagai satwa liar seperti burung, juga rusa yang dalam bahasa jawa disebut sebagai menjangan. Maka tidak mengherankan juga bila akhirnya bangunan ini sering disebut sebagai kandang menjangan.

Adalah Raden Mas Jolang yang memiliki gelar Prabu Hanyokrowati  yang juga adalah raja kedua kerajaan mataram Islam serta Putra Panembahan senopati adalah orang yang dulu kala memanfaatkan wilayah hutan Krapyak ini sebagai tempat “bebedhat” atau dalam bahasa indonesia berburu sampai akhirnya pada tahun 1613 mengalami sebuah peristiwa dalam perburuannya yang mengakibatkan beliau meninggal dunia ditempat ini. Beliau lantas mendapatkan gelar Panembahan Seda Krapyak yang berarti seorang raja yang meninggal di hutan Krapyak.

Salah satu situs wisata yang layak di jaga sebagai salah satu tempat yang menjadi “tetenger” bahwa dulu sekali tempai itu adalah sebuah hutan dimana para para raja pernah berburu didalamnya. Sebuah tempat bersejarah yang harus kita bersama jaga kelestarianya.