Ilustrasi IHSG Kembali Ke Zona Merah
TERASWARTA – Ekonomi | Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di awal pekan yang lalu sempat bergerak ke zona positif seiring dirilisnya data deflasi bulan September dan adanya surplus neraca perdagangan. Akan tetapi persoalan yang terjadi di AS dengan tidak beroperasinya departemen pemerintahan AS, sementara dari dalam negeri isu pemberlakuan kenaikan Giro Wajib Minimum dan kenaikan tarif dasar listrik (TDL) tak dipungkiri akan terus mempengaruhi kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama sepekan turun 34,36 poin atau sebesar 0,78 persen dari pekan sebelumnya. Beberapa indeks sektoral juga mengalami penurunan. Akan tetapi untuk sektor infrastruktur naik 1,61 persen dan perdagangan naik 0,05 persen.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu menutup gap 4.403 – 4.412 di antara beberapa sentimen negatif yang bermunculan. Laju rupiahpun juga sempat mengalami penguatan terhadap dollar AS seiring melemahnya Indeks Dollar AS yang diakibatkan pembahasan anggaran AS yang belum menemukan kata sepakat.
Beberapa data positif dari Asia mampu membawa angin segar untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sehingga melanjutkan penguatan.
Beberapa kondisi yang terjadi akhirnya dimanfaatkan oleh pasar sehingga terjadi aksi ambil untung sehingga IHSG kembali ke zona negatif pada akhir pekan lalu.
Terjadi kekhawatiran akan potensi terjadinya shutdown AS sehingga IHSG di awal pekan ini kembali ke zona merah. Sentimen negatif yang terjadi berimbas pada pergerakan bursa Asia dan secara otomatis berpengaruh pada IHSG.
Kondisi pasar yang kian fluktuatif saat ini membutuhkan ketelitian dalam entry market. Meskipun terdapat penilaian bahwa pertumbuhan dan peluang negara-negara kawasan APEC pada pertemuan APEC, namun pelaku pasar juga harus tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan. Beberapa data dari dalam dan luar negeri senantiasa menjadi fundamental akan pergerakan IHSG dan bursa Asia.