Eksotisme Pelangi Pantai Jogan Gunungkidul

Air terjun dari perbukitan karst yang menjadi keunikan dan daya tarik utama pantai jogan

Air terjun dari perbukitan karst yang menjadi keunikan dan daya tarik utama pantai jogan

TERASWARTA – Wisata | Dengan memacu kuda besi kesayangan, saya ingin menikmati setiap jengkal keindahan di Gunungkidul. Jalan mulus berkelok dengan berbagai variasi turunan dan tanjakan menjadi sebuah medan yang harus ditaklukkan. Pohon-pohon rindang di tepi jalan menjadi peneduh yang menyegarkan cuaca cerah. Tak terasa, setengah jam dari Jogja saya telah sampai di jalur ringroad kota Wonosari. Saya menelusuri jalan lebar nan sepi itu hingga sampai di jalan Wonosari Baron. Kuikuti jalan itu.

Sesampai di pertigaan Mulo, saya berhenti. Muncul kebingungan jalur mana yang akan saya pilih. Akhirnya, saya putuskan untuk mengambil jalur ke kiri yang mengarah ke pantai Siung dan Wediombo. Saya memilih jalur yang relatif belum dikenal. Benar saja. Saya menelesuri jalan yang benar-benar sepi.

Saya terus memacu kuda besi menelusuri jalan itu menuju ke pantai Siung. Sesampai di TPR, tidak ada penjaga sehingga saya bisa langsung memasuki wilayah pantai Siung tanpa membayar retribusi masuk. Saya mulai memperlambat laju kendaraan. Sekitar 700 meter dari retribusi, saya berjumpa dengan sebuah papan penunjuk sederhana bertuliskan: Pantai Jogan. Saya berhenti sejenak. Sepertinya saya belum pernah mengunjungi tempat itu. Dengan semangat, saya berbelok ke kanan melewati jalan berbatu. Tidak terlalu lebar tetapi cukuplah untuk jalan kendaraan beroda empat.

Jalan berbatu kadang diselingi corblock itu dikelilingi berbagai jenis pepohonan. Jalanan itu saya ikuti terus. Di pertengahan, saya berjumpa dengan sebuah truk tangki yang sedang menyedot air dari sebuah sumur. Di bawahnya terlihat ada air yang mengalir. Sebuah tanda tanya muncul: di tempat seperti ini kenapa bisa ada mata air?

Keindahan air tejun dari sisi berbeda

Keindahan air tejun dari sisi berbeda

Angin laut mulai terasa. Di depan sana sudah terlihat tanaman bakau. Pantai sudah dekat. Ternyata benar. Tak berapa lama, saya sampai di sebuah kompleks. Ada beberapa bangunan yang tampak berdiri. Dari bentuknya, bangunan itu terlihat masih belum terlalu lama dibangun. Saya pun segera memarkirkan sepeda motor di sebuah bangunan sederhana karena di tempat itu terdapat tulisan parkir sepeda motor. Di sebelah atasnya terdapat sebuah lahan cukup luas. Ada satu mobil yang diparkir di tempat itu.

Setelah saya memarkirkan sepeda motor, saya bertambah bingung. Katanya pantai, tapi mana? Saya sama sekali tidak melihat ada hamparan pantai putih khas Gunungkidul. Yang terdengar hanyalah deburan ombak yang menghantam tebing karang. Sejauh mata memandang, tanaman bakau tambak menghijau. Bahkan, saya kemudian sadar bahwa lokasi itu berada di atas permukaan laut. Artinya lokasi itu berada di atas ketinggian.

Keheranan saya terjawab. Di sebelah kiri areal parkir terdengar gemericik air. Saya pun melangkahkan kaki menuju ke tampat itu. tampak terlihat sebuah sungai kecil dengan air yang sangat jernih meskipun tampak juga sedikit tumpukan sampah dedaunan. Saya percaya, sungai kecil itu berasal dari sumber yang saya jumpai dalam perjalanan menuju ke lokasi ini. Sungai kecil itu mengalir turun ke laut. Jadilah sebuah panorama air terjun.

Inilah keunikannya. Pantai Jogan tidak seperti layaknya pantai-pantai di Gunungkidul. Pantai Jogan nyaris tidak memiliki  pasir pantai sebagai pembatas wilayah daratan dan laut, karena laut berbatasan langsung dengan tebing yang cukup tinggi. Sayangnya, saya datang pada musim kemarau. Tampaknya, keindahan air terjun Jogan ini akan maksimal pada musim penghujan. Karena debit air yang mengalir besar.

Ada dua cara menikmati keindahan air terjun di pantai Jogan. Pertama, dari atas tebing. di sela-sela bakau, telah disediakan tempat duduk sederhana yang bisa dipakai oleh para pengunjung untuk menikmati pemandangan di pantai ini. jika belum puas, para pengunjung bisa berjalan di sela-sela tanaman bakau menuju ke arah Barat. Di sana terdapat area pemancingan. Ada berbagai lokasi datar yang bisa dipakai untuk camping juga. Dari atas ketinggian, kita bisa menikmati keindahan ombak yang membentuk batu karang. Takperlu kagum, saat matahari bersinar terang, kita bisa melihat pelangi-pelangi indah di balik deburan ombak itu.

Eksotisme Pelangi yang muncul di antara karang dan debur ombak

Eksotisme Pelangi yang muncul di antara karang dan debur ombak

Kedua, turun ke bawah. Ada dua cara untuk turun, pertama dengan tehnik canyoning alias rappeling di air terjun. Tentu diperlukan peralatan dan kemampuan mumpuni untuk melakukannya. Tantangan tidak terlalu besar sebab tebingnya tidak terlalu tinggi. Kedua, menapaki turunan licin yang basah. Turunan yang dibuat ini hanya bisa dilewati satu orang. Sehingga untuk naik atau turun harus bergantian. Untunglah tersedia kayu-kayu pegangan sebagai alat bantu yang dapat memudahkan para pengunjung. Meski begitu, kehati-hatian adalah hal wajib karena jalur yang curam dan licin. Sesampai di bawah, kita akan disambut oleh bebatuan yang cukup licin.

Sekali lagi, dibutuhkan kehati-hatian dan kewaspadaan sebab medan yang sedikit sulit dan sewaktu-waktu, ombak bisa datang. Saya sendiri terpaksa harus bertahan di tepi tebing sekian lama gara-gara ombak ini. Karena ingin memotret air terjun dari bawah, saya pun turun. Karena saya yakin air sudah surut, saya sedikit mengambil posisi agak jauh dari sisi barat. Hal ini terpaksa ditempuh karena saya hanya membawa lensa fix 50mm, terpaksa harus mengambil posisi sedikit jauh. Ketika sedang asyik membidik, tiba-tiba saya merasakan ada ombak cukup besar mendatangi. Saya pun bergegas naik ke atas tebing yang curam dan terjal untuk menyelamatkan kamera. Celana basah takjadi soal, kalau kamera basah? Sekian lama berada di tempat itu menunggu ombak mengecil dan saya bisa kembali dengan nyaman.

Meski baru dibuka tahun 2010 yang lalu, beberapa fasilitas utama ada di lokasi ini. Ada areal parkir, meski untuk kendaraan roda empat harus ekstra hati-hati karena jalanan masuk yang tidak terlalu lebar. Terdapat juga beberapa kamar mandi. Ada sebuah warung sederhana yang menyediakan minuman dan souvenir. Jika pengunjung ramai, tim SAR dari pantai Siung datang untuk memberikan rasa nyaman bagi para pengunjung.

Berteduh sembari menikmati keindahan alam

Berteduh sembari menikmati keindahan alam

Setelah sekian lama menikmati keindahan alam dengan balutan sepoi-sepoi angin pantai, rasa kantuk pun datang. Sejenak saya merebahkan badan dan sempat tertidur. Setelah bangun dan terasa segar, saya pun melanjutkan perjalanan pulang ke Jogja. Ada kalanya, saya berbelok sebentar menuju ke beberapa pantai yang tak kalah eksotik: pantai Poktunggal, pantai Batu Payung, dan pantai Sepanjang.

Bagi anda yang ingin datang ke sana, inilah koordinat pantai Jogan: S8°10′49″ E110°40′33″. Silahkan datang dan buktikan bahwa Gunungkidul yang terkenal dengan kekeringan, ternyata memiliki keindahan alam nan eksotik yang berasal dari mata air yang keluar dari perut bumi di Gunungkidul.

(oleh : Ys. Wito Karyono, Pr / Kompasianer)