Tokoh Dibalik Kesan Mistis Kesenian Tradisional Incling

proses penyembuhan dalam incling

proses penyembuhan dalam incling

TERASWARTA – Profil | Gerak lincah para penari incling dengan pakaian yang penuh warna-warni menjadi semakin indah dan menarik bagi para pengunjung yang menyaksikannya. Sebuah pertunjukkan kesenian tradisional khas dari Kulonprogo, Yogyakarta. Menumbuh kembangkan sebuah budaya agar tetap lestari sebagai milik sebuah bangsa yang nantinya tak akan begitu saja diklaim sebagai milik bangsa lain yang lantas memanggil seorang tokoh yang akrab di panggil Pakde Sam dalam kesehariannya.

Bernama asli Samsul Nurudin yang lahir pada tahun kisaran 1945, lantas mendirikan sebuah kelompok kesenian tradisional incling krumpyung. Incling sendiri adalah sebuah tarian yang mengisahkan babad Panji Asmoro Bangun sedangkan Krumpyung adalah alat musik yang terbuat dari bambu. Lebih tepatnya berbentuk angklung hanya dalam setiap angklung terdapat tiga notasi yang akan berbunyi bersama saat digerakkan.

Kelompok yang dibangun ini bernama “Langen Bekso Wiromo’. Sebuah nama yang ingin menggambarkan kelompok kesenian tradisional yang menari dengan serempa dan tertata. Dibangun dengan perjuangan yang tentu saja tidak mudah sejak tahun 1984 dengan beberapa anggota yang tersebar dari beberapa wilayah di kelurahan Hargorejo, Kokap. Dan berkat perjuangan tersebut pada tanggal 9 september 1989 mendapatkan akta dari Pemerintah.

Kelompok ini tentu masih saja tak lepas dengan sosok pakde Sam ini lantaran secara spiritual memang sosok ini memiliki kelebihan. Banyak khalayak tentu tahu ada banyak hal yang berhubungan dengan dunia mistis. Pakde Sam ini adalah sesepuh yang mengatur ini semua. Filosofi yang juga diercaya dan dibawa oleh beliau yang percaya bahwa di manapun berada selalu ada empat titik (papat pancer) yang akan selalu menjaga dan akan hadir untuk bersenang-senang bersama irama yang ditabuh yang lantas kita kenal dengan istilah “ndadi” (sang pemain dirasukii oleh roh halus. Memang ada syarat-syarat dalam pemanggilan roh ini serta “ubo rampe” yang harus disediakan untuk makanan sang roh yang merasuk.

Warna-warna dan bentuk kuda juga memiliki masing-masing makna yang secara gamblang dan jelas kita dapat apabila berkunjung ke kediaman beliau di desa Kokap, Kulonprogo. Beliau yang sekarang memang sudah mulai menua ini masih sangat antusias bercerita tentang babad panji sekaligus bagaimana perjuangannya.

Pakde Sam sosok pemerhati sekaligus pelaku dari keinginan mengembangkan budaya tradisional yang pantas untuk dijaga serta ditumbuh kembangkan. Sebuah kelompok yang juga lantas lahir dari kemampuan serta keahliannya yang memiliki cinta pada budaya incling krumpyung ini.