Sektor Pertanian dan Perindustrian Terabaikan Pemicu Jatuhnya Rupiah

ilustrasi Sektor pertanian dan industri

Reformasi telah berjalan selama 15 tahun, distribusi kekayaan masih berada di tangan individu tertentu. Isu demokratisasi dan desentralisasi semakin nyata terlihat. Sebelum reformasi (1997) dan saat reformasi tahun 2012 beberapa data menunjukkan perbaikan di sektor ekonomi. Produk Domestik Bruto (PDB) naik dari Rp 627,70 trilliun menjadi Rp 8.241,86 triliun, rata-rata inflasi turun dari 10,27 persen menjadi 5,68 persen. Data tingkat kemiskinan juga membaik dari 34,01 juta menjadi 28,59 juta.

Masa reformasi dilakukan upaya koreksi biar terjadi persaingan usaha yang adil dan kegiatan ekonomi yang lebih merata. Pemerintah memilih liberalisasi perdagangan, investasi, finansial, dan tenaga kerja. Sedang untuk ekonomi mikro, pemerintah melakukan  proses pemberian kewenangan untuk pemerataan pembangunan melalui desentralisasi.

 

Namun apa yang terlihat dan terjadi di lapangan masih jauh dari harapan. Pemerataan bidang usaha masih dikuasai oleh beberapa pihak pemodal besar. Dengan pilihan liberalisasi ini, sektor pertanian seolah hilang tanpa ada pembenahan bahkan menjadi hal yang terasingkan di beberapa kalangan. Hal ini mengakibatkan produksi pertanian jatuh, dan Indonesia bergantung pada impor.

 

Desentralisasi yang seharusnya merupakan alat untuk pemerataan ekonomi, cenderung kehilangan kesempatan sehingga berjalan tidak sesuai arah. Apabila desentralisai ini dilakukan dengan baik maka sektor pertanian juga akan berkembang makin baik sebagai pilar pemertaan pembangunan daerah. Sedang untuk demokratisasi diharapkan mampu menciptakan ekonomi berkeadilan dan kesamaan akses.
Sektor industri yang dianggap strategis untuk menekan tingkat pengangguran, kini juga memperlihatkan kemerosotan. Pertumbuhan industri di Indonesia ini juga dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain suplai energi baik listrik maupun gas.

 

Pada saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia terganggu oleh berbagai data internal dan eksternal. Data inflasi setelah terjadi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, pasokan dan distribusi pangan yang terganggu, dan isu sentimen luar negeri yakni The Fed. Belum lagi tahun ini sampai pertengahan 2014 merupakan masa pemilu. Beberapa kebijakan-kebijakan ekonomi fiskal juga sudah diluncurkan, namun rendahnya kebijakan fiskal untuk sektor perindustrian dan pertanian tidak dipungkiri menjadi faktor utama yang memicu melemahnya nilai tukar rupiah dan meningkatnya defisit neraca berjalan.

 

Berbagai macam persoalan ekonomi Indonesia saat ini haruslah membuat skala prioritas. Dimana sektor pertanian dan perindustrian harus dibenahi terlebih dahulu.

 

Di Indonesia, setiap tahun sekitar 110.000 hektar lahan pertanian  beralih fungsi menjadi lahan non-pertanian, baik untuk pemukiman dan pusat bisnis. Nilai impor yang tinggi lebih banyak untuk kebutuhan pangan. Sedang untuk nilai ekspor yang turun sekarang ini menunjukkan daya saing industri di Indonesia masih rendah. Kondisi ekspor Indonesia sangat bergantung pada ekonomi global karena banyak mengekspor bahan mentah.

 

Sektor pertanian dan perindustrian merupakan pondasi terbangunnya ekonomi suatu negara secara merata. Pandangan terhadap sektor pertanian yang menganggap sektor yang kampungan sehingga regenerisasi di kalangan muda sangat minim untuk memperhatikan dan membenahi pertanian. Apalagi sekarang ini sektor pertanian jarang sekali mendapat kebijakan yang menyelesaikan masalah pertanian. Negara Indonesia yang merupakan negara agraris, dan kini terlupakan begitu saja terlena dengan sikap keangkuhan perkembangan global. Sektor pertanian dan perindustrian seharusnya mampu menjadi pondasi suatu negara sehingga tercipta negara yang makmur tanpa kekurangan pangan dan distribusinya. Semoga segera terjadi pembaharuan di dua sektor ini, sehingga pertumbuhan ekonomi dan berjalan dengan baik kembali serta seimbang. (Christin)