Nilai tukar rupiah masih melemah

TERASWARTA – Ekonomi | Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diperkirakan masih melemah. Laju rupiah di awal pekan ini akan dipengaruhi oleh data inflasi bulan Agustus yang akan dirilis hari ini (2/9) oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Faktor dari luar yang juga berpengaruh adalah dirilisnya data-data AS dan beberapa isu sentimen pengurangan stimulus The Fed.

Tingkat inflasi pada bulan Agustus diperkirakan 1,25 persen dari bulan sebelumnya sebesar 3,29 persen. Neraca perdagangan diprediksi membaik. Namun ada beberapa faktor eksternal dari The Fed yang cukup berperan memberi suasana yang berujung pada sentimen negatif. Dari faktor internal dan eksternal inilah yang membuat rupiah diprediksi masih melemah di awal pekan ini pada kisaran Rp 10.870 hingga Rp 11.000 per dollar AS seiring terjadinya defisit neraca berjalan dan inflasi.

 

Pasar masih menunggu cara dan instrumen pemerintah menekan defisit neraca berjalan dengan berbagai kebijakan ekonominya dengan meningkatkan supplai dollar AS. Laju rupiah di akhir pekan lalu menunjukkan penguatan yang ditopang oleh sentimen positif kenaikan BI rate sebesar 50 bps menjadi 7 persen dan dikeluarkanya kebijakan pengelolaan likuiditas valas, lelang term deposit, pembelian SBN di pasar sekunder serta lelang Sertifikat Deposito BI (SDBI).

 

Dari data inflasi yang dirilis hari ini, kita berharap pemerintah tetap dapat menjaga laju inflasi agar pertumbuhan ekonomi kembali stabil. Bila inflasi bisa lebih rendah maka tekanan rupiah dapat berkurang. Selain itu, pemerintah juga diharapkan dapat menjaga pasokan dan distribusi pangan sehingga tidak terjadi lonjakan harga yang tajam. (Christin)