Bank Indonesia

TERASWARTA – Ekonomi || Cadangan devisa yang dilaporkan Bank Indonesia sampai bulan Agustus 2013 senilai 93 milliar dollar AS. Jumlah ini relatif stabil dibanding posisi akhir bulan Juli lalu 92,7 milliar dollar AS. Cadangan devisa sekarang ini setara dengan 5,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Bila hanya untuk memenuhi kebutuhan impor, jumlah cadangan devisa setara dengan 5,2 bulan impor. Cadangan devisa ini oleh Bank Indonesia dinilai cukup untuk menghadapi tekanan neraca perdagangan.

Beberapa data ekonomi global sedikit banyak mempengaruhi ekonomi dalam negeri. Hal ini tentu saja disebabkan kebutuhan dollar masih tinggi. Impor yang dilakukan masih tinggi dan nilai ekspor yang masih rendah. Ketidakpastian ekonomi global beberapa waktu ke depan tentu saja memerlukan langkah-langkah untuk mengantisipasi gejolak harga dengan perpaduan kebijakan, penguatan respon, dan mempersiapkan cadangan devisa.
Cadangan devisa yang berkurang oleh Bank Indonesia dinilai wajar karena adanya aliran modal keluar (capital outflow). Beberapa paket kebijakan ekonomi yang telah dirintis beberapa waktu lalu, sekarang ini baru diimplementasikan bekerja sama dengan pemerintah pusat untuk mengendalikan perkembangan ekonomi. Beberapa kebijakan ini diharapkan mampu memperbaiki neraca perdagangan Indonesia.
Bila dibandingkan dengan kondisi perbankan tahun 1997 atau 1998 dinilai BI belum menjunjung tata kelola perbankan yang baik. Masih terdapat kualitas kredit yang buruk. Data per Juni 2013 melaporkan rasio kecukupan modal sebesar 18 persen dimana batas ketentuan umumnya 8 persen dan rasio kredit bermasalah sebesar 1,9 persen.
Pertumbuhan ekonomi dalam negeri berharap pada realisasi kebijakan ekonomi pemerintah serta kebijakan Bank Indonesia untuk mengendalikan laju rupiah. Bila dicermati akan ada dilema tersendiri bagi Bank Indonesia, apakah akan fokus pada menjaga laju rupiah saja atau mengendalikan inflasi. Laju inflasi dan laju rupiah sama-sama berpengaruh dan harus memperoleh solusi terbaik. Harapan masyarakat tentunya nilai rupiah terjaga dengan baik dengan likuiditasnya, serta inflasi yang stabil. Laju inflasi sangat mengganggu perekonomian secara umum, terjaganya pasokan kebutuhan pokok di pasar dan distribusinya merupakan langkah yang paling penting untuk menjaga perekonomian nasional. Pemerintah juga sebaiknya menata kembali beberapa sektor yang berbasis pangan agar tidak tergantung pada impor luar negeri. (Christin)