Ilustrasi pasar domestik

TERASWARTA – Ekonomi | Pergerakan nilai rupiah terhadap dollar AS dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sore hari kemarin ditutup kembali melemah. Hal ini dipicu oleh adanya kemungkinan BI tidak menaikkan suku bunga acuan kembali.

Suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang dipatok 6,5 persen belum cukup membantu penguatan rupiah. Sementara  kenaikan suku bunga acuan lanjutan sebenarnya sangat diperlukan saat ini untuk mengimbangi kecemasan investor terhadap lonjakan inflasi, besarnya defisit perdagangan Indonesia dan adanya iklim perlambatan ekonomi.Kenaikan suku bunga acuan di atas tingkat inflasi dapat membantu penguatan rupiah secara berkelanjutan.
Dari sektor luar dipengaruhi oleh dollar AS yang hari ini cenderung menguat setelah mengalami aksi ambil untung pada tiga hari terakhir akibat pernyataan Obama sehingga berhasil mengurangi kecemasan pasar atas rencana penyerangan ke Suriah dan Obama menunda Konggres AS atas serangan militer ke Suriah.
Dari sektor intern, hasil Survei Penjualan Eceran bulan Juli 2013 yang dilakukan oleh BI bahwa pertumbuhan konsumsi masyarakat serta tekanan harga dari permintaan pedagang selama tiga bulan mendatang mengalami perlambatan. Hal ini terlihat dari melambatnya pertumbuhan indeks penjualan riil bulan Juni dari 8,3 persen, di bulan Juli menjadi 5,7 persen.Pertumbuhan indeks penjualan riil  tahunan turun untuk bulan Juni dari 14,9 persen, untuk bulan Juli menjadi 9,1 persen.
Hampir semua komoditas mengalami perlambatan. Kebutuhan pokok konsumsinya melambat setelah bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Komoditas berupa sandang, perlengkapan rumah tangga yang merupakan kebutuhan sekunder pertumbuhannya stabil.
Indeks ekspektasi harga untuk 3 bulan (Oktober 2013)  yang akan datang mengalami penurunan, mengakibatkan menurunnya tekanan kenaikan harga dari permintaan pedagang.
Indeks kenaikan harga untuk enam bulan yang akan datang (Januari 2014) menurut survei BI yang dilakukan bulan Juli 2013  sebesar 0,8 persen, angka yang cukup rendah dibanding survei bulan Juni sebesar 10,2 persen. Kondisi ini sangat berpengaruh pada tingkat inflasi yang akan menjadi rendah, dan pertumbuhan ekonomi melambat. (Christin)