Ilustrasi

TERASWARTA – Catatan | Sahabat teras, kali ini saya akan memposting sebuah artikel yang pada awalnya berada pada sebuah dinding seorang sahabat. Berisi tentang sebuah sindiran dengan latar belakang fenomena “bahasa layang-layang alias ketinggian” pada beberapa topik yang menghangat saat ini.

Dipandang dari segi bahasa mungkin memang bukan bahasa yang baku dengan EYD yang sebenarnya namun kiranya ini layak kita baca sebagai bahan penggambaran tentang bagaimana sih kita dalam keseharian, yang terkadang memang berkeinginan lebih dalam mencapai sebuah keinginan terlebih ketenaran. Wujud aktualisasi diri bahasa kerennya. begini posting sahabat saya ini dengan sedikit edit huruf di sana-sini tentunya, hehehe :
Guyonan ala jogjakarta “KUDETA DAUN PISANG alias STEMPEL GALAUISASI MENEMPEL DI JIDAT”:
Ilustrasi
Motivator kuwi yo mesti galau, kita kan nggak tau to? klo dia galau mesti nangis sampai kalungan ember sambil nendangin kaleng kerupuk trus naik diatas meja…apalagi tetangga sebelah? klo ngomong? twenty my age lho, ..sokkk intelek brittish? klo ketemu orang banyak bilang demi situaisasi kemakmuran buat mangkal nanti malam cinnn…lhooo???modal dasi kupu kupu, !!
Bicara demi labil ekonomi perlu konspirasi hati agar tercipta kudeta daun pisang agar tidak mengganggu harmonisasi stempel galau wajib menempel di jidat demi kesejahteraan bersama..
Ujung ujungnya apa yang dia bilang?, akan aku nyanyikan sebuah lagunya yopie and nuno dalam bahasa jawa’ rungokno wanodyo sing tak tresnani, bengi iki arep tak omongke’…yen lagu kui krungu marwoto kawer opo butet, paling ya cuma bilang”” wah ning mburi mesti ono trembelane iki hayoo hayooo hahahaha,,,
Padahal tonggo ku kuwi sing rupane koyo sandy sandoro?? tau nggak sandi sandoro? itu yg sering nyanyi lagu dangdut” segantang dua gantang bunga dan kumbang, kalau perawan dan bujang cinta dan sayang, bulan haji yang ‘kan datang kita ke penghulu gadang”,,,senengane ngoyak oyak menthok nang omah(itik),,mergane yen bengi sepi lan galau obat nya udah ketemu, yaitu narsis didepan cermin, sambil liatin menthok lalu mencontoh goyangannya alias pengen goyang itik???hahahaha.
Padahal dulu itu suka main ketoprak!, gara gara sering nonton pilem dikecamatan, klo nggak salah “puspa indah taman hati”(maklum dulu tipi mah jarang,),,obsesinya bikin pilem (maklum naik pangkat otodidak/seperti kenaikan pangkat tukang bangunan) mau bikin pilem dewe, disutradari dewe, dimainkan dewe judule “doa sejoli jangan bermuram durja( trilogi surthi kanthi), tapi pertanyaannya shootingnya pake apa? bingung to? saya pun juga bingung memikirkannya…
Ilustrasi
Apalagi soal ngeyelnya itu, suka bertanya tapi dijawab sendiri ..apa apa semua baginya benar seperti tangan kanannya yg bikin hidup, tapi klo lagi bete banget alias mutung bahasa jawane? nyanyinya” mondar mandir-mondar mandir, bolak balik-bolak balik, heeeiiiii yoooo telpon lagi aku slalu menunggu gu gu gu…tapi klo ditanya kenapa? jawabnya” perasaaan tomy nggak gitu deh!?trus ada apa disisinya? lha wong sisi aja udah pindah domisili” itu klo ada temennya,… klo sendiri dibawah pohon mengkudu, selalu berpantun dan berpuisi ” nyuuun nyuuunyuuun nyuuun!! dan pasti diakhiri munarooh munaroooh kapan kita bisa musyawarohhhh yeeeaaa yeeaa(obsesi si doel anak sekolahan, pengen punya andeng andeng di dagu kaya bang rano karno)
Jadi antara motivator lan tonggoku kuwi sama? sama-sama makan nasi, sama sama klo galau! nyanyiin lagu kebangsaan aja susah, yang paling diingat lagunya” mawar melati memang kagak adoo” hahahaha duuuhhh!!! capek dech, opo maneh yen ning pasar beringharjo, yen golek kain bathik riwil, seperti nawar cabai 1 ons, itu pun yang dicari kain bathik yang motif pacul atau jaran kepang..(obsesi jadi michael bolton dari solo nyanyi campur sari di suriname)
yah begitulah ceritanya,,, just kidding just for lunch, klo ada kekurangannya saya minta kembaliannya..ok teman teman!!!

 

Sahabat teras, seolah nampak tidak jelas catatan di atas namun ada hal yang bisa kita ambil dari hal catatan teman saya ini. Bahwa sebenarnya sisi hati semua manusia yang punya keinginan itu sama. Tentang bagaimana berusaha untuk mencapainya. Masalahnya adalah terkadang kita kemudian tidak menjadi diri kita sendiri. Seolah hal yang tidak mungkin akan menjadi mungkin padahal memang akan jadi beban tersendiri tentunya.
Menjadi diri sendiri, apa adanya dalam keadaan yang meski mungkin sederhana sesuai kemampuan adalah hal utama. Tak harus juga menjadi seolah yang tak terkalahkan dalam konteks kebenaran yang melulu dari pola pikir sendiri.
(from status FB : Hieronimus Arie Wibowo/brimob)