Emas Turun (ilustrasi)

TERASWARTA – Ekonomi | Dollar AS terus menguat ke level tertinggi di atas 100 yen seiring spekulasi tanda-tanda perbaikan ekonomi AS akan membuat The Fed mengurangi stimulus moneternya bulan september ini. Jumlah pekerja AS yang mengajukan aplikasi untuk memperoleh tunjangan pengangguran baru mengalami penurunan. Sedang data terpisah dari ADP Research Institute menunjukkan sektor swasta mempekerjakan 176.000 tenaga kerja bulan lalu. Data indeks non manufaktur PMI dirilis 58.6 naik 58.0.

Bursa AS menguat setelah investor melihat data tenaga kerja dan industri jasa Amerika sebelum data non-farm payrolls dirilis malam nanti waktu Indonesia.
Harga emas kembali turun ke level terendah selama dua pekan terakhir yang diakibatkan oleh penguatan dollar setelah keluarnya data AS, dimana pasar mengkhawatirkan The Fed mengurangi stimulus moneternya. Data tenaga kerja menjadi kunci The Fed dalam mengambil keputusan mengurangi program pembelian obligasi senilai 85 milliar dollar per bulan.
Menguatnya dollar membuat sejumlah pelaku pasar menjauh dari pasar logam mulia ini. Awal pekan ini merupakan bulan penuh dengan data ekonomi.
Di Indonesia, beberapa toko emas juga sudah mulai kehabisan stok emas batangan. Harga emas yang mengalami penurunan dari Rp 510.000 menjadi Rp 480.000 sepekan kemarin membuat permintaan fisik dalam bentuk batangan dan koin meningkat tajam.
Nilai tukar rupiah juga masih diperkirakan melemah terhadap dollar AS. Hal ini juga perlu diantisipasi menjelang dirilisnya data non-farm payrolls hari ini. Dollar AS yang semakin menguat jelas akan mempengaruhi beberapa sektor industri dalam negeri. Di bursa, pelaku pasar lebih cenderung menahan diri untuk mengantisipasi sentimen negatif.
Secara teknikal harga emas masih berpeluang menguji area 1360, break di bawah area ini akan memicu koreksi lanjutan di area 1347. Resisten terdekat terlihat di area 1385, break di atas area itu akan mendorong kembalinya harga ke area 1400. (Christin)