Benci Yang Menyelimuti Cinta


Ilustrasi fiksi
TERASWARTA- Fiksi | Aku berjalan di halaman depan kampusku aku terjebak dengan seorang pria yang bernama Karis, dia cowok yang gimana ya, agak sulit untuk dijelaskan. Dia sih gak jelek bagiku, tapi dia suka rada-rada gak jelas dan gak nyambung jika berbicara, dan suka membuatkan puisi untukku, walau puisi yang diberikan untukku sangat ancur berantakan dari mulai bait bahkan sajaknya.

Neyna, kaulah pujaan hatiku
Wajah indahmu berkilau bagai rembulan yang redup
Hingga seredup-redupnya malam
Walau cintaku bertepuk sebelah kaki
Tapi batinmu selalu ku nanti
Bola matamu yang bulat
Seperti tomat terbelah empat
Jika engkau tersenyum
Bagai manisnya madu yang dikelilingi serangga Oh, Neyna … Oh Neyna…

“Stooooooppppp.” Teriakku dengan keras, semua orang mendengar dan tertawa mendengar ocehan Karis di kelas, merayuku agar aku mencintainya. Aku benar-benar tak ingin melihat dia lagi, rasanya ingin pergi saja ke planet mars diluar angkasa yang paling jauh.
“Kenapa sih, wajah gue bagaikan rembulan redup, berarti jelek dong, kenapa mata gue kaya tomat dibelah empat, kenapa senyum manis gue kaya madu dikelilingi serangga?
Udah deh ya, kalau loe gak bisa buat puisi ya udah gak usah maksa.” Bentakku marah.
“Neyna kok jadi marah sih ama Karis, Kariskan hanya ingin membuat Neyna seneng.”
“Seneng dari mana? Yang ada gue empet ngeliat loe.”

Aku langsung menuju ke kantin dari pada mendengarkan ocehan si Karis yang gak jelas dan membuat diriku pusing, aku ke kantin bersama Dersya dan Belia. Dersya adalah cewek yang modis, gaul dan terpercaya di kampus semua cowok mendekatinya. Belia, dia cewek berkaca mata berparas cantik dan berambut panjang, dia memang terlihat sangat dewasa dengan poster tubuh yang tinggi dan terlihat pendiam, sedangkan aku Neyna si paras jelita yang tak kalah cantik dari teman-temanku.
Ketika bercermin membuat aku narsis, ketika menyisir membuat aku percaya diri, inilah aku yang selalu memiliki kepribadian tanpa di ganggu gugat oleh sepatah katapun orang, berbicara tentangku dan prinsipku.

“Itu dosen yang galak itukan, pak Arton.” Bisikku.
“Iya, dia kalau ngajar cepet banget ngejelasinnya kaya orang kebelet ke toilet deh.” Kata Dersya.
“Entarkan kita ada pelajaran dia.” Sahut Belia.
“Ih, males banget. Kaya gak ada dosen lain aja.” Sahutku.

Pelajaran pak Arton telah tiba dan waktunya belajar serius, dia kalau mengajar gak tanggung-tanggung, tangan keriting dengan tulisan yang begitu banyak, dan menerangkan sedikit dengan kedetailan, belum lagi menerangkannya terlalu cepat dalam penjelasan materi yang diberikan, banyak tulisan banyak penjelasan juga. Waktu masih setengah jam lagi, rasanya udah borring banget dan membuat aku terus-terusan melihat waktu dijam tanganku untuk segera keluar dari ruangan itu dan menghentikan pelajaran yang membosankan. Minggu depan harus menyelesaikan tugas yang diberikan pak Arton, sungguh tak terduga tugas yang membuat aku sedikitpun tak dapat ku mengerti.

“Ney, tadi loe dilihatin teus tuh sama pak Arton, sinis banget dia sama loe, lagian sih main handphone terus.” Kata Dersya.
“Ah, bodo amat. Gue juga benci setengah mati sama dia. Pasti besok gue bakal disuruh maju kedepan untuk bahas tugas yang diberikan, udah hafal banget gue.”
“Gak boleh gitu, nanti nilai loe jebol baru tau rasa loe.”
“Jangan sampe deh ada pengulangan, nanti gue bisa ketemu sama dia lagi. Mager gila.”

Baru semester satu ketemu dosen pak Arton yang ngeselin, tapi Alhamdulillah dosen yang lain semua baik dan gak ada masalah, kecuali pak Arton, titik.
Ternyata benar keesokan harinya aku disuruh maju ke depan untuk menyelesaikan satu nomor yang sangat sulit bagiku dan sadikitpun aku tak bisa.

“Kenapa Ney, kamu diam. Hayo kerjakan.”
“Suutttt, gimana nih?” Bisikku kepada Dersya. Dersya menggeleng-gelengkan kepalanya. Begitu juga diperhatikan oleh pak Arton.
“Gak bisa pak saya.”
“Kamu gak ngerjain tugas?”
“Ngerjain pak.”
“Kok gak bisa? Nyontek kamu.”
“Gak nyontek pak, Cuma ngelihat sedikit aja.”
“Apa bedanya nyontek sama ngelihat? Kalo nyontek yang pakai melihatlah.” Katanya jutek.
“Iya pak maaf.” Singkatku. Alhamdulillah aku langsung disuruh duduk kembali, kemudian mahasiswa lainnya yang maju kedepan untuk melanjutkannya.
“Apes banget gue, ngeselin tuh dosen, kenapa harus gue terus gitu disuruh maju paling pertama, tau banget kalau gue gak bisa.” Bisikku kesal.
“Mungkin dia kenalnya sama loe doang Neyna.” Kata Dersya.
“Atau mungkin dia ngefans sama loe.” Sahut Belia.
“Husstttt, ngaco loe.” Bentak Dersya.
“Tapi jujur loe, pak Arton masih single, dan dia kalau marah wajahnya tambah ganteng gitu.” Lanjut Belia. Aku tak henti-hentinya jutek melihat pak Arton.

Berlalu semester satu lanjut ke semester dua, kini aku bertemu lagi dengan pak Arton, bahkan malah sering ketemu di kampus, semakin benci perasaan aku tapi semakin mencarinya kalau pak Arton sedang tak bisa mengajar ataupun digantikan dengan dosen lain. Semakin benci sama pak Arton malah semakin sering ketemu dia, bahkan setiap hari. Kita bahkan mulai deket sambil bercanda kalau di luar jam kuliah, seperti ada hal yang tersimpan diantara kita, bahkan saling tergolong malu-malu tapi mau. Lama-lama kita sering jalan bareng makan bareng bahkan cari buku bareng, dan dia mulai mengatakan bahwa dia menyukaiku, sungguh aku tak menyangka bisa seperti ini, akhirnya setelah lama kita mengenal dan dekat, kita pacaran. Kalau di kampus kadang baik, kadang cuek, kadang dingin, pacaran tapi kaya gak pacaran. Semakin hari berlalu kita pacaran ternyata sudah menyebar ke seluruh dosen dan mahasiswa. Sedikit malu sih jadi bahan ledekan para dosen dan mahasiswa lainnya, tapi yang namanya juga cinta, apa mau dikata, semua juga udah ada jalan yang diatur oleh Allah SWT.

“Jiehhhh… yang baru pacaran sama pak Arton?” Kata Dersya meledek.
“Apa sih,.” Kataku sambil tersenyum malu-malu.
“Gue bilang juga apa, kalau diperhatikan pak Arton itu baik, ganteng, dan perhatian banget lhoh.” Kata Belia “Makanya jangan terlalu benci sama seseorang, nanti jatuh cinta baru tau rasa deh, makan aja tuh benci loe.” “Iya, ya jangan terlalu benci, nanti jadi cinta.”

Kalau di kampus memang pura-pura tak kenal, berusaha menjadi mahasiswa dan dosen yang propesional untuk tidak menghubungkan segala hubungan pribadi kita berdua.

“Ney, aku mau bacakan puisi untuk kamu lagi ya.” Kata Karis sambil membawa selembar kertas.
“Stop.. stop… stop.. Gue udah pusing dengar ocehan puisi loe ya, mending puisinya gue baca nanti aja di rumah oke.” Kataku merayu Karis sambil mengambil kertas itu dengan memaksa.
“Tapi… Tapi Neyna cantik… Aku ingin kamu mendengar suara merduku Ney.”

Aku, Dersya dan Belia berlarian ke luar kelas, dari pada dia membaca di kelas, mengganggu orang lain aja. Setelah Karis tak terlihat maka selembar puisi itu langsung aku buang ke tong sampah. Duh, bukannya tidak menghargai tapi hanya tak ingin membuatku pusing dan sakit perut membaca puisinya.
“Kasihan banget ya nasib si Karis.” Kata Belia ngenes sambil ngelus dada.
“Tapi sebenarnya dia ganteng lhoh terus keren banget kalau dirubah wajahnya, dipermak levis.” Sahut Dersya sambil mengejek Karis.

Beberapa lama kita pacaran ternyata pak Arton ingin mencoba membicarakan tentang hal serius kepada kedua orang tuaku untuk melamarku secepatnya, karena keyakinan yang membuat hati kita menyatu membuat hubungan kita memiliki tujuan yang nyata dalam kehidupan cinta kita.
“Apakah kamu menyukai lamaranku?”
“Ehmm…mmmm…” Aku mulai bingung harus menjawab apa.
“Iya, aku mau.”

Sebuah lamaran terjalin begitu saja hingga aku menyetujui pernikahan ini dengan sangat baik, kami merayakannya tidak terlalu mewah, cukup sederhana tapi memuaskan para tamu yang diundang, terutama bagi semua dosen yang hadir dan teman-temanku, sungguh ini hari pernikahan yang sangat membahagiakan bagiku, keluargaku dan pak Arton serta keluarganya. Semoga apa yang kita niatkan berjalan sesuai tujuan untuk menjadi keluarga yang harmonis dan keluarga yang sholeh-sholehah. Kita memang tak tau apa yang terjadi di hari esok tak bisa membandingkan yang mana yang menjadi jodoh kita yang mana yang akan menjadi sahabat baik kita dan yang mana yang menjadi musuh kita, karena yang terjadi hari ini, belum tentu bisa berlanjut dihari esok. Dari mulai benci lalu mencintai atau dari mulai mencintai lalu membenci, ternyata benar kata semua orang, orang yang paling kita benci belum tentu menjadi musuh kita selamanya.

SEKIAN

( karya : D’j )