Tradisi sungkeman

Tradisi Sungkeman
TERASWARTA – Budaya | Lalu lalang kendaraan luar kota seakan menjadi penghias tersendiri bagi seluruh kota utamanya yogyakarta. Memang tak seperti biasa, di setiap lebaran tiba selalu saja kota ini sekan berubah menjadi ibu kota. Akan kita lihat plat B menjadi penghias utama rasanya.
Nuansa mudik yang kental di saat lebaran. Hari yang datang setahun sekali. Hari yang dinanti oleh sekian banyak umat muslim tentunya.
Di yogyakarta masih ada sebuah tradisi jawa yang masih banyak yang melesatarikan yakni “ujung”. Ujung ini adalah istilah dari silaturahmi atau saling mendatangi rumah sanak saudara dan juga orang tua masing-masing tentunya.
Tradisi yang lebih unik lagi, sebagai tradisi yang pantas untuk dilestarikan adalah tradisi ‘sungkeman”. Hal ini adalah sebagai simbol sebuah bakti atau penghormatan kepada yang lebih tua. Tradisi yang sebenarnya di adakan tak hanya di hari lebaran tentunya. Namun pada saat lebaran ini sekan menjadi hal wajib bagi keluarga-keluarga tertentu.
Dalam sungkeman ini ada banyak hal yang diungkapkan mulai dari meminta maaf sampai dengan memohon restu akan sebuah hal yang baik. Memohon sebuah restu dari orang yang dituakan.
Pada umumnya sungkeman ini di awali dari keluarga yang paling tua mulai dari eyang, kakek-nenek, bapak ibu, sampai dengan saudara yang lebih tua. Dengan sungkeman ini juga akan terlihat nantinya mana yang dituakan dalam sebuah keluarga. Saudara-saudara mana yang lebih tua.
Hal unik lain sebagai contoh ketika ada saudara yang mendapatkan jodoh lebih tua. Maka bila garis keturunan menempatkan dia sebagai yang muda maka mau tak mau dia yang harus sungkem lebih dulu. Bahkan tak jarang ini jadi penghias ‘guyonan” yang semakin meng-akrabkan lantaran yang secara umur lebih tua namun secara “kewajiban” harus menghormati yang lebih tua dalam sebuah garis keturunan atau “trah”.
Sebuah tradisi yang layak dijaga dan dilestarikan. Tradisi ketimuran yang sarat makna terutama dalam menempatkan orang lain dalam garis keturunan dan bukan umur semata. Harapannya yang muda namun punya garis keturunan lebih tua juga akan mampu menjadi panutan bagi yang lebih “muda”. hal lain adalah wawasan bahwa bakti anak kepada orang tua melalui adat sungkeman ditampilkan supaya masih bangga dengan orang tua, belajar budi pekerti. (chipriant)