Tari Incling Krumpyung kesenian Tradisional khas Kulon progo

tari Incling
TERASWARTA – Budaya | Ratusan warga datang dalam sebuah acara peringatan hari kemerdekaan RI yang ke 68 kemarin,selasa malam (20/8). Sebuah acara yang digagas oleh warga desa Gunungkukusan, Kokap, Kulon Progo. Para warga ini antusias datang meski dari jarak yang tidak dekat dan mudah untuk diakses lantaran berada di sebuah desa yang terdiri atas perbukitan, jadi bisa di bayangkan juga tentunya jalan yang harus ditempuh. Lebih dari itu memang ada beberapa jalan yang masih sulit untuk di akses dengan kendaraan bermotor.
Lebih meriah lagi acara ini juga menampilkan sebuah acara seni pertunjukan “Incling krumpyung”. Sebuah kesenian khas tradisional daerah Kulon Progo. Incling krumpyung sendiri adalah sebuah seni tari layaknya jathilan atau mungkin angguk. Sebuah kesenian tradisional yang  malam itu ditarikan oleh delapan penari dari pripih dan juga Group langen Bekso Wiromo dari Hargorejo, Kokap. Sebuah tarian yang mengisahkan tentang cerita “panji’. Perbedaan kesenian incling krumpyung ini juga terdapat pada alat musik yang digunakan yaitu selain gamelan dan kendang juga ada angklung. Alat musik inilah yang biasa disebut juga dengan “krumpyung”.

Lebih lanjut kenapa dinamakan dengan krumpyung lantaran nada dalam setiap angklung tidak hanya satu melainkan tiga nada dasar. Warna suara yang dihasilkan inilah yang lantas disebut sebagai krumpyung yang berasal dari kata “kemrumpyung atau suara yang ramai”.

Acara semakin meriah setelah beberapa orang pemain ‘dirasuki” oleh kekuatan lain. Hal ini yang memang dinantikan oleh para penonton lantaran memang acapkali perilaku para pemain yang kerasukan ini terkesan lucu. Ada saja yang menjadi permintaan para roh yang merasuki ini. Ada yang naik tiang tenda, ada yang minta lagu, ada yang minta menari bersama penonton, dan lain-lain. Tak urung para mahasiswa UGM yang kebetulan KKN di desa ini jadi “kurban” ajakan sang roh untuk menari. Tak ayal inipun membuat riuh rendah para penonton oleh teriakan dan tepuk tangan.

Acara peringatan hari kemerdekaan yang meriah meski sampai larut malam. Lebih lanjut kepala dusun Gunungkukusan mengatakan ini adalah acara peringatan kemerdekaan yang ketiga kalii dalam masa jabatannya. Meski  gelar budaya incling krumpyung ini adalah yang pertama sedang tahun-tahun sebelumnya adalah kegiatan kesenian lain. Namun acata tirakatan tetap menjadi hal rutin yang selalu ada dalam setiap tahunnya.

Kiranya budaya dan kesenian tradisional semacam incling ini terus menjadi perhatian semua pihak agar tetap lestari sebagai daya tarik wisata dan juga aset kekayaan kesenian tradisional yang bernilai tinggi. (teraswarta)