Rupiah dan Paket Kebijakan Ekonomi

TERASWARTA – Ekonomi | Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan ke zona negatif, sedang rupiah berhasil menguat di akhir pekan ini. Penguatan ini sebagai respon positif atas kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Pasar masih menguji seberapa kuat paket  kebijakan pemerintah ini untuk meredam gejolak rupiah dan bursa saham.

Pemerintah telah mengeluarkan paket kebijakan ekonomi untuk menjaga perekonomian nasional dan dampak perubahan kebijakan ekonomi global.
Kebijakan yang pertama adalah memperbaiki neraca transaksi berjalan dan menjaga nilai tukar rupiah. Terdapat beberapa langkah yang dilakukan pemerintah yaitu mendorong tingkat ekspor, memberikan tambahan pengurangan pajak untuk ekspor padat karya yang memiliki ekspor minimal 30 persen dari total produksi, menurunkan impor minyak dan gas dengan mendorong penggunaan biodiesel, menetapkan pajak impor barang mewah dari 75 persen menjadi 125 persen hingga 150 persen serta memperbaiki ekspor mineral dengan memberikan relaksasi kuota.

Kebijakan yang kedua ditujukan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi. Pemerintah memastikan defisit fiskal tetap berada pada 2,38 persen dan pengurangan pajak untuk industri padat karya.

Kebijakan yang ketiga adalah upaya menjaga daya beli masyarakat dan tingkat inflasi dengan cara  mengubah tata niaga sejumlah komoditi yang harganya mudah terganggu di pasaran.

Kebijakan yang keempat adalah upaya untuk mempercepat investasi antara lain, menyederhanakan perizinan dengan mengefektifkan pelayanan terpadu satu pintu yang berkaitan dengan investasi,

Pasar memberi respon positif atas paket kebijakan pemerintah ini, dan mampu membawa rupiah hingga menguat di level Rp 10.770 setelah mencapai level terlemahnya Rp 10.830 dari posisi pembukaan Rp 10.800 per dollar AS.
Namun di sisi lain, bursa saham justru bergerak negatif sesaat setelah pengumuman paket kebijakan tersebut. Pelemahan IHSG ini seiring dengan laju bursa regional yang variatif. Melemahnya IHSG tidak bisa disimpulkan sebagai respon negatif pasar atas paket kebijakan pemerintah, tetapi respon negatif cenderung dipengaruhi oleh faktor eksternal mengenai isu pengurangan stimulus dari bank sentral AS.
Pasar juga masih menanti pengumuman tingkat inflasi bulan agustus yang akan diumumkan pada tanggal 2 september 2013.

Beberapa paket kebijakan ekonomi ini diharapkan mampu meredam anjloknya nilai tukar rupiah dan IHSG dan dilaksanakan dengan baik oleh pihak-pihak yang terkait sehingga pertumbuhan ekonomi dapat terjaga. (Christin)