KRISIS

TERASWARTA – Ekonomi | Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS diprediksi masih melemah. Menguatnya rupiah akhir pekan lalu, masih diuji di awal pekan ini.

 

Analisa teknikal dari menguatnya rupiah akhir pekan lalu membuat grafik bergerak diprediksi titik support rupiah di kisaran Rp 10.700 dan titik resistance di Rp 10.850. Pelemahan rupiah masih terbuka ke level Rp 11.000 an jika melihat dari kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

 

Pergerakan rupiah yang masih terbatas ini juga disebabkan oleh pasar yang masih menanti rilis inflasi bulan agustus yang akan diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tanggal 2 september 2013. Melemahnya pergerakan rupiah ini dominan dipengaruhi oleh melemahnya sejumlah mata uang Asia. Sebelumnya, laju rupiah dari kurs tengah Bank Indonesia melemah tipis karena hal yang sama. Di sisi lain, terdapat penilaian masuknya Thailand dalam resesi dan penurunan surplus neraca berjalan Malaysia turut menambah sentimen menjadi negatif.

 

Kondisi ekonomi saat ini mengingatkan kita kembali akan kondisi ekonomi tahun 1998 dan 2008. Tahun 1998, Bank Indonesia memberikan intervensi besar-besaran karena pemerintah telah mematok rupiah pada angka tertentu. Pengembalian dana uang asing Bank Indonesia dan pemerintah tidak memiliki statistik yang lengkap dari utang luar negeri.

 

Tahun 2008, terjadi krisis kembali akibat krisis subprime mortgage di AS, dimana kredit perumahan di AS diberikan kepada debitur-debitur yang memiliki portofolio kredit yang buruk. Kondisi perbankan di tahun 2008 sudah baik, sehingga kondisi ekonomi yang bergejolak bisa diselamatkan. Namun gejolak ekonomi yang paling parah terjadi yaitu tahun 1998. Sedangkan kondisi perekonomian tahun 2013 ini, sedang melaju sangat cepat namun impor meningkat sehingga menimbulkan defisit neraca berjalan. Peningkatan impor saat ini seiring dengan ekspor yang melambat. Kondisi ekonomi yang terjadi saat ini, lebih banyak karena kebutuhan komoditi pangan yang tidak terpenuhi oleh dalam negeri, sehingga impor dilakukan dan melambatnya ekspor.

 

Hal ini yang menyebabkan defisit neraca berjalan. Indonesia adalah negeri yang makmur, dengan kondisi ekonomi seperti sekarang diharapkan pemerintah bersinergi dengan pihak-pihak terkait mampu mengatasi ancaman krisis yang nantinya akan mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi menjadi tidak stabil. Dan diharapkan pula atas kebijakan-kebijakan pemerintah, bersih dari kepentingan-kepentingan pihak tertentu yang cenderung mengambil kesempatan dari kondisi ekonomi sekarang ini. (Christin)