inflasi dan sektor pertanian

inflasi dan sektor pertanian

TERASWARTA – Warta | Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi yang tercatat naik 8,61% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu atau lebih dibanding ekspektasi 8,15%. Sementara untuk perhitungan bulanan, inflasi bulan Juli naik 3,29% lebih tinggi dari estimasinya yang hanya 2,85%. Angka inflasi Indonesia bulan Juli tercatat melampaui perkiraan analis dan pengamat ekonomi.

Inflasi inti (core CPI) naik 4,44% dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Angka ini lebih tinggi dibanding catatan CPI tahun ini pada bulan juni sebesar 3.98%. Laju inflasi Indonesia meningkat tajam pada bulan Juli sebagai imbas dari kenaikan harga bahan bakar minyak bulan lalu. Faktor bulan Ramadhan juga mempengaruhi , sehingga memperkuat asumsi – asumsi ekonomi mengingat lonjakan harga rutin terjadi setiap momen hari raya. Begitu juga kondisi politik Indonesia menjelang pemilu 2014.

Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS diperkirakan tidak akan lama. Bahkan pemerintah sendiri bisa memprediksi tidak lebih dari 2 bulan. Kondisi ekonomi bisa rush kalau terjadi kepanikan masyarakat dalam menghadapi harga-harga kebutuhan pokok sekarang ini dan tidak percaya kepada pemerintah.

Di Amerika Serikat sebenarnya nilai tukar Dollar sudah dipertahankan sestabil mungkin, karena bila dollar tidak stabil, maka produk dari Amerika sendiri tidak mampu bersaing di pasar global. Ekonomi Indonesia belum begitu kuat sehingga mudah terpengaruh oleh perubahan kurs mata uang luar negeri dan efek sentimen ekonomi negara maju. Intervensi pemerintah terlambat, karena kurs rupiah dengan dollar sudah melampaui Rp. 10.000.

Indonesia adalah negara dengan aset yang melimpah. Lahan pertanian luas terbentang. Tetapi negeri ini tidak mandiri dalam mengatur pangan. Peran pemerintah harusnya sangat besar, karena masyarakat yang akan semakin terpuruk. Dengan melambungnya harga-harga kebutuhan pokok menunjukkan adanya kesalahan kebijakan pangan dan ketidaksiapan pemerintah mengelola manajemen pangan nasional , dan tentu saja semakin menyengsarakan seluruh masyarakat Indonesia.

Kebutuhan pangan di Indonesia hampir semuanya dipenuhi dari impor. Sebagai contoh daging sapi, Indonesia masih impor 20% atau sekitar 650 ribu ton, untuk gula masih impor 37% atau sekitar 1,3 juta ton, impor gandum 100% atau 6,4 juta ton, bawang putih 90%, jagung, cabai dan beberapa komoditi lainnya seperti kedelai, bawang merah bahkan garam.Hal ini dapat diartikan negara Indonesia sangat tergantung dengan negara lain. Sedangkan lahan pertanian dan asetnya masih sangat luas untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Kemana arah sektor pertanian selama ini.

Lahan pertanian yang ada sebaiknya dilakukan pendataan mengenai luas area lahannya, mengatur pola tanam, adanya jadwal panen yang jelas, distribusi yang tepat sehingga kebutuhan pangan dapat tercukupi. Hal ini tentu saja juga adanya antisipasi akan adanya cuaca yang tidak pasti.

Hal yang tidak kalah penting adalah menjaga jalur perdagangan agribisnis dan hortikultura. Indonesia terkenal dengan negara yang makmur dengan sumber daya alam melimpah, kenapa hal yang sering terjadi dengan kebutuhan pangan malah menyengsarakan masyarakat kita sendiri. Sektor pertanian yang dilalaikan telah membuat negeri ini menjadi miskin dan mahalnya kebutuhan pokok. (Christin)