Penurunan Rupiah dan IHSG
TERASWARTA – Ekonomi | Terjadinya penurunan rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara signifikan dalam dua minggu terakhir ini menyebabkan spekulasi dan kekhawatiran akan terulangnya krisis moneter seperti tahun 1998 dimana nilai rupiah menyentuh Rp 17.000.

Pasar valuta asing bila dikaji dengan prinsip permintaan dan penawaran, maka dapat diperoleh penyebab terjadinya penurunan nilai rupiah. Bila pelaku pasar lebih banyak menjual dollar dan membeli dollar, nilai tukar rupiah akan turun dan sebaliknya.

Secara internal seperti pembahasan yang lalu, defisit neraca berjalan pada kuartal II (April-Juni 2013) mencapai 4,4 persen jauh lebih tinggi dari kuartal I (Januari – Maret 2013) sebesar 2,8 persen.

Kecenderungan masyarakat dan perusahaan di Indonesia membeli barang dari luar negeri dibandingkan menjual barang ke luar negeri menyebabkan meningkatnya defisit neraca berjalan. Sebagian besar transaksi ekspor dan impor menggunakan dollar, sehingga permintaan dollar meningkat.

Hal lain yang menyebabkan meningkatnya defisit neraca berjalan adalah tingginya tingkat inflasi tahun ini. Inflasi bulan Juli mencapai 3,29 persen, sehingga inflasi semester pertama (Januari – Juli 2013) mencapai 8,61 persen. Angka ini lebih tinggi dibanding inflasi tahun 2011 dan 2012 dari 3,79 persen menjadi 4,3 persen. Tingginya inflasi tahun ini ditopang juga dengan kenaikan BBM  yang menimbulkan pengaruh yang saling berkaitan, khususnya segi transportasi dan energi. Kenaikan BBM tahun ini berbarengan dengan bulan Ramadan dan Lebaran, sehingga terjadi peningkatan permintaan barang dan jasa. Pada tahun 2005, alami kenaikan  harga BBM sebesar 17,11 persen tetapi tidak terjadi penurunan nilai rupiah yang drastis seperti saat ini.

Faktor eksternal dari kondisi ekonomi global, adanya indikasi yang diberikan The Fed untuk mengurangi stimulus moneter dengan menekan suku bunga dan memborong berbagai instrumen pasar. Laporan biro statistik Amerika pada Agustus juga menunjukkan perbaikan dengan menurunnya tingkat pengangguran. Ekonomi Eropa juga menunjukkan tanda positif, bahkan neraca perdagangannya surplus.

Bukan hanya di Indonesia yang mengalami capital outflow dan penurunan nilai mata uang, melainkan India, China, Brasil dan Turki. Nilai mata uang India jatuh sampai 17 persen. Faktor eksternal inilah yang ikut mempengaruhi laju nilai rupiah.

Dari faktor internal dan eksternal ini, akan terjadi kombinasi bagaimana yang akan terjadi dengan perekonomian Indonesia setelah keluarnya kebijakan ekonomi dari pemerintah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) bulan Agustus dan September perlu ditunggu untuk mengetahui pengaruh kenaikan harga BBM terhadap impor dan konsumsi barang.

Pemerintah menetapkan enam barang yang tak lagi dianggap mewah, antara lain peralatan rumah tangga dengan harga 5 juta atau 10 juta, mesin pengatur suhu udara (AC) di bawah 8 juta, pemanas air dan mesin cuci di bawah 5 juta, proyektor dan saniter di bawah 10 juta. Barang-barang ini masih diimpor atau komponen impornya besar, dengan penghapusan PPn BM akan meningkatkan impor yang akan semakin cadangan devisa. Begitu juga dengan penetapan pajak lebih tinggi untuk mobil mewah impor, karena banyak mobil mewah sudah dirakit di dalam negeri, yang diimpor dalam bentuk built up hanya sedikit. Oleh karena itu, timbul pertanyaan apakah impor dapat dikurangi? Kampanye penggunaan rupiah di setiap transaksi kembali muncul. Tetapi ada impor lain yang perlu diwaspadai yaitu impor besi baja. Seperti yang diketahui publik, besi baja merupakan impor terbesar ketiga dan 7,5 persen dari total dimana Krakatau Steel telah menjalin kerjasama dengan Japan Steel dan Posco Steel dari Korea Selatan.

Kebijakan pemerintah yang dikeluarkan saat ini perlu waktu yang tidak pendek untuk memperbaiki perekonomian saat ini khususnya berhubungan dengan tata niaga. Hal pokok yang terjadi di Indonesia bukan pola perdagangan, baik volume, kuota atau harga tetapi pada pasokan barang yang sangat kurang. Yang terpenting saat ini dilakukan oleh pemerintah adalah menjaga distribusi dan harga kebutuhan pokok.

Kebijakan lain untuk mengurangi inflasi adalah menjaga pertumbuhan ekonomi dan mempermudah investasi bersifat jangka menengah.

Paket stimulus ekonomi dari pemerintah ini tentu saja membutuhkan waktu untuk mengetahui seberapa hebatnya mengatasi ancaman krisis saat ini. Pemerintah dan Bank Indonesia harus bisa bekerjasama untuk mengatasi melemahnya nilai rupiah dan turunnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Harapan masyarakat bukan hanya pencitraan yang berani mengeluarkan stimulus yang terkesan buru-buru tanpa analisa yang lebih dalam. Apalagi tahun ini merupakan masa menghadapi pemilu 2014. Hal-hal internal dan eksternal inilah yang saling berkaitan dalam laju rupiah dan menurunnya bursa saham saat ini yang perlu penanganan lebih serius kalau tidak mau terjadi krisis kembali. (Christin)