Budaya Rasulan
TERASWARTA – Budaya | Rasulan bagi orang jawa secara khusus penduduk di gunung kidul tentunya sudah buka lagi kata yang aneh di telinga. Sebagian orang yang belum tahu barangkali akan berfikir bahwa rasulan berkaitan erat dengan kehidupan “para Rasul atau para suci” dalam kehidupan beragama. Gunungkidul yang berada di antara perbatasan dengan kabupaten Bantul di sebelah barat, serta berbatasan langsung dengan propinsi jawa tengah di sebelah utara dan timur ternyata memaknai kata rasulan sama sekali berbeda dengan pandangan tersebut.
 Rasulan bagi warga Gunungkidul pada masa ini dikenal dengan nama bersih desa atau dalam istilah lain “merti desa” yang tentu saja maksud dan tujuannya adalah niatan membersihkan “sengkala” atau hal-hal negatif yang ada sebelumnya, serta memohon agar diberi kesehatan dan kecukupan sandang pangan serta papan yang layak. Lantas membawa dalam rangkai acara doa karena semua kenikmatan itu disadari sepenuhnya sebagai pemberian Tuhan, biasanya di sertai dengan kenduri bersama warga desa.
Acara yang rutin diadakan di setiap desa dalam setiap tahunnya pada waktu yang berbeda-beda yang ternyata lantaran merupakan acara peringatan atas berdirinya suatu desa atau dusun. Hal inilah yang akhirnya membuat peringatan rasulan diadakan pada waktu yang tidak bersamaan.
Dulu pada saat saya masih usia sekolah dasar sampai SMU acara rasulan ini di adakan sangat meriah bahkan berlangsung beberapa hari, biasanya di akhiri dengan pagelaran wayang semalam suntuk. Meski saat ini sudah jarang yang mengadakann acara seperti dulu. Hal ini mungkin juga dikarenakan kehidupan yang semakin menuntut pemenuhan kebutuhan secara lebih porsinya.
Secara pribadi saya merasa kagum dengan budaya ini dimana pada saat acara rasulan ini bagaimana kerukunan antar warga dapat terlihat. Bebersih bersama untuk kampung atau desanya secara gotong royong. Apalagi saat kenduri dan mengumpulkan semua makanan yang di bawa oleh para bapak-bapak di balai desa atau tempat pak dukuh adalah hal unik yang menjadi kerinduan tersendiri. Bagaimana tidak? Masakan yang dibawa pada saat kenduri di jadikan satu untuk kemudian di bagikan rata kembali kepada semua warga. Campur aduk memang hasilnya, namun menjadi sangat nikmat oleh rasa syukur. Pada saat rasulan juga kesempatan bagi para muda-mudi juga saling berkunjung ke desa lain, dan yang pasti bisa makan bersama.
Hal yang patut dibanggakan lagi dari kegiatan ini adalah akan munculnya pagelaran kesenian daerah dalam kerangka budaya daerah yang sarat dengan ritual jawa. Adanya sesajen beserta ubo rampe yang biasanya dibawa juga. Sangat unik dan ini kekayaan buadaya yang pantas dilestarikan. Saat ini memang kehidupan ekonomi menuntut bagaimana orang harus berjuang lebih dan hal ini yang kita sadari mulai menggeser budaya-budaya semacam ini. Maka layak kita kembali ke masa lalu juga untuk berkaca bagaimana budaya ini sangat adiluhung untuk di lestarikan bersama makna di dalamnya. (chipriant/*ilustrasi foto tentanggk.com)