Sego Gurih

TERASWARTA – Warta | Sebuah pertunjukan kreatif, lucu, dan interaktif digelar malam tadi (20/7) di sebuah desa geneng, di sewon, bantul, yogyakarta. Sebuah taeter situasi yang kental dengan nuansa obrolan keseharian yang sudah barang pasti mejadi tontonan yang semakin menarik untuk dinikmati masyarakat sekitar. Sebuah pertunjukan yang digelar dengan bekerjasama dengan masyarakat.

Puluhan bahkan mungkin ratusan yang datang di halaman rumah bapak dukuh ini untuk menyaksikan acara sandiwara yang diusung oleh komuitas sego gurih dan juga pentas oleh gegendingan dari para ibu-ibu masyarakat desa geneng ini. Sebuah komuitas yang konsisten dengan menggunakan bahasa jawa dalam aksi teater mereka.
Kesan sederhana dan apa adanya nampak dari kostum dan juga percakapan mereka. Dengan panggung yang sejajar sama rata dengan penonton sehingga seolah tanpa sekat. Namun jelas bahwa ini membawakan situasi yang memang ada di masyarakat saat ini. Tentang bagaimana perjuangan hidup untuk mencukupi nafkah, bagaimana trik dan intrik dalam mendapatkan sebuah pencapaian. Bagaimana juga harapan akan kehidupan yang membaik oleh peran pemerintah.
Kisah yang berjudul “purik” atau bila dibahasakan dalam terjemahan bahasa indonesia adalah “ngambek atau pisah pasangan” ini juga dipentaskan tanpa lepas dari interaksi yang aktif dengan penonton. Artinya penonton tidak hanya dibiarkan untuk melihat sebuah pertunjukan saja melainkan juga turut serta dalam dialog-dialog yang dilontarkan oleh para pemain.
Mungkin hampir sama dengan lenong, hanya memang ada bedanya lantaran di sini semua berkisah tentang kehidupan sehari-hari. Penonton lantas tidak menerka-nerka sebenarnya tentang apa yang ingin disampaikan lantaran dialami dalam kehiudpan sehari-hari penonton juga. Penyebutan nama, tempat juga adalah tempat di mana pertunujukan ini diadakan.
Para penonton juga disuguhi dengan berbagai macam karakter yang kurang lebih sama juga dengan kehiupan sehari-hari. Kehidupan sederhana yang khas dengan obrolan alakadarnya namun sebenarnya cerdas, cerdik dan sarat makna.
Di ceritakan bagaimana sebuah keluarga dengan latar belakang pedagang angkringan menjadi harus bertengkar oleh sebuah kecemburuan meski di akhir kisah rukun kembali. Ini sebuah balutan kisah saja yang kiranya adalah ingin menggambarkan bagaimana orang harus cerdas dalam memilah sebuah kabar, sebuah situasi dan juga tanggungjawab. Bagaimana sebuah keterbukaan dalam berkomunikasi menjadi kunci penentu sebuah kebaikan. Tentunya tak hanya dalam keluarga namun juga dalam masyarakat. Bagaimana harus berperan aktif dan nyata meski dalam kemajemukan latar belakang dan sebagainya. Diusai pertunjukan juga digelar makan bersama antara pemain dengan masyarakat.   
Semoga ini juga menjadi inspirasi bagi para muda, para seniman juga para kreatif lain untuk menciptakan sebuah potensi yang bisa menjadi perekat satu dengan yang lain di masa seperti sekarang ini. (teraswarta)