Tahbisan Imam
TERASWARTA – Warta | Hari ini tadi (23/72013) tiga orang diakon atau calon imam dari konggregasi Misionaris a Sacra Familia (MSF) menerima pentahbisan dari Uskup Agung semarang Mgr. Johannes Pujasumarta.

Tahbisan ini di laksanakan Gereja Keluarga Kudus Banteng Yogya dalam sebuah prosesi yang dihadiri oleh para frater, Bruder, Suster dan Imam (Romo). Keluarga para calon imam dan juga undangan lain yang secara khusus juga datang untuk memberikan dukungan dan doa untuk para diakon yang akan menerima sakramen imamat.

Para calon imam yang menerima sakramen Imamat ini antara lain frater diakon Aloysius Danny Raditya (asal Paroki Santo Yusuf Pati), Rufinus Sabtian Herlambang (Santo Antonius Padua Bidaracina Jakarta) dan Wempy Mandagie Limbong (Santo Mikael Palopo Sulawesi Selatan).

Suasana yang khidmat, haru dan penuh syukur nampak dalam prosesi besar ini. Rasa syukur dikarenakan setelah menjalani masa pendidikan yang tidak singkat dan mudah akhirnya diperbolehkan menerima sakramen Imamat.

Sebelum ditahbiskan menjadi seorang imam dituntut untuk terlebih dahulumenjalani suatu program pendidikan seminari yang selain berisi studi filsafat dan teologi sampai lulus, juga mencakup suatu program formasi yang meliputi pengarahan hidup rohani, berbagai retreat, pengalaman apostolat atau masa tahun orientasi pastoral (semacam Kuliah Kerja Nyata), dst. Proses pendidikan sebagai persiapan untuk menjadi layak tertahbiskan secara permanen.

Pendidikan ini terbagi atas beberapa tahap seperti :

Masa Postulan :
Umumnya pendidikan diawali dengan pendidikan postulan di seminari berthinianum Salatiga, Masa Postulat ini lamanya 1 (satu) tahun. Selama masa Postulat para postulan/Berthinianis akan mendapatkan materi-materi pendidikan yang biasanya diberikan di Seminari Menengah, al. Pengetahuan Kitab Suci; liturgi Gereja; Sejarah Gereja; Pengetahuan dan pendalaman agama, bahasa Latin, bahasa Inggris, bahasa Indonesia: kecakapan mengarang artikel, dll. Diberikan juga bimbingan rohani dan pembinaan kepribadian.

Masa Novisiat :

Masa ini berlangsung selama satu tahun penuh di Salatiga. Selama masa Novisiat ini para novis (anggota baru) dipersiapkan untuk nantinya cakap menghayati hidup sebagai religius dan calon imam MSF. wisma Betlehem, Salatiga menjadi tempat gemblengan masa ini.

Masa Study Skolastikat :

Masa pendidikan di Skolastikat (program studi S1 Filsafat dan Teologi) berlangsung selama empat (4) tahun. Selama masa empat tahun ini para skolastik (frater yang sudah berkaul sementara) akan menjalankan studi Perguruan Tinggi Filsafat dan Teologi Wedabhakti (FTW) Universitas Sanata Dharma, di Kentungan – Yogyakarta. Termasuk di dalamnya ada masa-masa tahun orientasi pastoral dan lain sebagainya.
Di akhir misa Romo Wahyu MSF, memberikan pengutusan ketiga Imam ini ke daerah tugas masing-masing yakni ke Purwodadi, Temanggung dan kalimantan. Artinya telah sah untuk melayani umat secara utuh di sebuah paroki atau tempat tugas masing-masing. (chipriant)