Ngrukti Bumi Amrih Lestari Titah Ilahi

 

Festival Kesenian OMK

Festival Kesenian OMK

TERASWARTA – Budaya | Judul di atas adalah salah satu tema yang dibawa dalam Festifal Kesenian Tradisional OMK (Orang Muda Katolik) Rayon Kulon Progo 2013. Acara yang diadakan kelima kalinya ini bertempat di lapangan Kecamatan Kalibawang hari minggu (30/6). Acara ini dihadiri oleh pejabat pemerintahan Kabupaten Kulon Progo, Kapolsek Kalibawang, Perangkat desa dan juga para Pastor sebagai Pendamping kegiatan ini.

 

Dalam sambutannya, Eko Wisnu Wardhana, S.E selaku Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda Dan Olah Raga menyatakan dukungannya akan kegiatan ini sebagai salah satu benteng terhadap masuknya kebudayaan barat yang sering kali tidak sesuai dengan budaya Indonesia secara khusus budaya daerah yogyakarta dimana “unggah ungguh,tepo saliro” terutama dalam bahasa  masih dijunjung tinggi. Lebih lanjut beliau juga  mengatakan bahwa selain bahasa indonesia yang adalah bahasa persatuan yang utama agar tetap juga menjaga lestarinya bahasa daerah khususnya bahasa jawa.

 

Tema yang diusung ini adalah sebagai wujud kepedulian terhadap adanya eksploitasi alam yang berlebihan sedang alam pada dasarya adalah titipan dari Tuhan yang selayaknya dijaga secara sungguh-sungguh. Mengingatkan kembali pentingnya kesadaran memperhatikan lingkungan serta berusaha memperbaikinya. Hal ini di ungkapkan oleh ketua panitia Bonifaius Galih K.

 

Lebih dari itu juga tampil beberapa kelompok kesenian tradisional yang memang sejak awal menjadi ciri khas kegiatan ini. Tarian dan juga gerak-gerak teatrikal yang menggambarkan bagaimana alam di rusak. Greget Incling, Enjer kethek- Sugriwa dan Subali, kesemuanya adalah penampilan-penampilan kesenian dari beberapa paroki yang ada di Kulon Progo.

 

Tampil juga Setrek Muslim yang merupakan Kesenian Lokal Kecamatan Kalibawang. Kesenian asli jawa yang dikarang oleh Sunan Kalijaga. Kelompok kesenian dari kalibawang yang sudah berdiri  sejak januari 1971 ini wujudnya adalah pencak silat yang mempunyai makna seni tari Religius terbang dan Khosidah.

 

Ratusan orang tampak antusias datang melihat Festifal Kesenian Tradisional ini sejak pagi hari. Panas terik serasa tak membuat para penonton beranjak dari tempat mereka. Ajisoko, Salah seorang penonton yang hadir dalam kesempatan ini mengatakan, “acara ini sangat menarik terlebih meski dari para muda katolik namun juga menyertakan peserta lain. Dari sini kerukunan beragama bisa di dapat melalui kesenian tradisional ini. Ini juga bagus untuk di adakan terus karena menjaga lestarinya kesenian daerah ”.

 

Nampak juga dalam kesempatan ini hadir puluhan fotografer dan kelompok foto seperti “geblek” yang sengaja datang untuk mengabadikan pertunjukkan-pertunjukan seni tradisional ini sehingga acara semakin marak.  (tulisan saya yang dimuat juga di/*Analisapublik.COM)