Mencintai Kembali Permainan Tradisional

Permainan Tradisional
TERASWARTA – Budaya | Permainan tradisonal ternyata masih diminati anak-anak kampung. Ditengah maraknya permainan yang lebih canggih dan serbuan tren gadget yang semakin tak terkendali. Ruang bermain anak di kampung menjadi hal yang mahal untuk dibeli. Padahal kampung adalah sahabat rumah sekitar dan lingkungan yang tampak ketika membuka pintu atau jendela rumah. 
Himpitan pembangunan kota urban sudah terasa di beberapa kampung Yogyakarta. Predikat mengejar apa itu modernitas tak terelakan. Akibatnya banyak ruang kreativitas anak menjadi hilang, kota dan kampung menjadi tak ramah pada anak. Fasilitas dan ruang bermain anak menjadi minim bahkan hilang. Kota menjadi angkuh dan sombong. 
Fasilitas tanah lapang mungkin semakin susah diakses oleh anak-anak sekarang. Namun tidak berlaku untuk anak-anak yang tinggal di kampung Sagan RW 10 Terban Yogyakarta. Mereka masih sempat bermain, berinterkasi dan berkreasi bersama dengan anak-anak lainnya. Di halaman luas milik salah seorang warga yang masih merelakan tanahnya untuk bisa digunakan sebagai ruang bermain anak. 
Dihalaman luas yang banya dikelilingi pohon sukun, durian, melinjo dan nangka ini anak-anak kampung berkumpul akrab. Mereka bermain gobak sodor, egrang, bakiak dan ulo banyu. Permainan tradisional yang mungkin sudah jarang dijumpai di kota urban. Anak-anak di kampung ini cukup gembira dan bersemangat mengapresiasi mainan analog yang juga membutuhkan sportivitas. 
Konon permainan tradisonal memang sudah ketinggalan jaman, namun dikala anak-anak dikenalkan untuk tahu kemudian mencoba ternyata mereka masih berminat. Banyak manfaat yang bisa dilakukan minimal memberikan proses belajar mengenal kampung dan kultur mereka lebih dekat. Menumbuhkan empati, kekeluargaan dan mencintai kearifan lokal dari kampung dimana mereka tinggal. Mulai dari sinilah kelak anak-anak kampung akan terus belajar dan menjadi benteng pertahanan kebudayaan kampung. [EAW]