Pertunjukan Sego Gurih
TERASWARTA – Warta | Komunitas sego gurih akan tampil hari ini pukul 18-19 Wib di sebuah stasiun televisi (TVRI) hari ini (19/7/2013).  Tampil dalam kemasan dialog yang konsisten menggunakan bahasa jawa. Sebuah   komunitas yang layak untuk kami angkat dan kenalkan kepada anda sahabat teras.
Komunitas Sego Gurih awalnya berdiri di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) yang sekarang berubah menjadi SMK 1 Kasihan Bantul Yogyakarta pada tahun 1996. Dominasinya adalah anak-anak dari jurusan teater. 

Awal berdiri komunitas ini hanya bertujuan untuk mempunyai ruang berekspresi bagi anak-anak jurusan teater. Tentu saja ekspresi yang tidak sekedar dibatasi dengan kegiatan yang berhubunga dengan formalitas sekolah. Perkembangan berikutnya justru komunitas ini mulai diminati oleh berapa jurusan. Maka terpikirkan untuk memproduksi pertunjukan tepatnya sekitar tahun 1998.  

Komunitas ini didirikan oleh Wage Daksinarga, Eko Nuryono dan Ibnu Widodo. Ketiganya adalah teman satu jurusan namun berbeda angkatan. Komunitas inisering membuat pertunjukan keliling keluar sekolah di acara-acara nikahan, perpisahan kuliah kerja nyata, di halaman rumah acara tujuhbelasan, atau dipinggir sawah. Pada prinsipnya bahwa komunitas yang dibuat untuk menjadi ruang kesenian yang menyenangkan siapa saja

Pemilihan nama Komunitas Sego Gurih sendiri berlangsung spontan saja.Wage Daksinarga menjelaskan bahwa sego gurih itu adalah nasi uduk, ibarat makan jika tanpa lauk atau sayur nasi uduk saja sudah enak. Itu saja makna yang dijabarkan secara sederhana. Secara filsofis pengertiannya misalnya terpaksa tidak ada lampu sebagai tata cahaya pertunjukan pun tetap akan berjalan sebagaimana mestinya. Hal mengenai kondisi perkembangan teater umumnya adalah bahwa teater semakin miskin fasilitas, meskipun ada itupun susah diakses.
Struktur organisasi yang dibuat dalam Komunitas Sego Gurih bersifat formalitas saja. Karena komunitas ini terbiasa melakukan koordinasi, rapat anggota ataupun musyawarah ketika membuat produksi pementasan. Hal utamanya adalah bahwa setiap posisi atau peran yang dilimpahkan memang harus dikerjakan dengan ikhlas dan  bertanggung jawab. Komitmen inilah yang terus dipelihara oleh setiap anggota komunitas ini, tentu saja segala sesuatu harus dikomunikasikan dengan terbuka. 
Penulis lakon dalam komunitas ini adalah Wage Daksinarga. Meskipun baru memulai menulis naskah yaitu lakon KUP tahun 2002. Sempat akan diproduksi di tahun 2003 namun gagal, akhirnya terlaksana tahun 2009. Pada tahun 2011 untuk lakon Bleg-Bleg Thing dituliskan oleh Abdillah Yusuf. Pada tahun 2012 Wage Daksinarga juga menulis lakon Sedulur Mulur Tangga Ecadengan adaptasi bebas dari Malam Jahanamkarya Motinggo Busye. Pada tahun 2006 Wage Daksinarga pernah menuliskan lakon Purik namun dalam bentuk skenario film. Rencana akhir tahun 2012 ini akan diproduksi dalam bentuk teater panggung.
Dan pada tahun 2013 ini telah ada karya baru yang salah satunya akan di pentaskan hari ini 19 Juli 2013 jam 18.00-19.00dalam tayangan sandiwara berbahasa Jawa dengan judul PURIK jilid 2. Bersama membangun kampung dan desa dengan kebersamaan untuk masa depan kota. Dilanjutkan pertunjukan PURIK putaran ke 6 pada Sabtu 20 Juli Dusun Geneng Sewon Bantul langsung ke 7 pada Minggu 21 Juli Dusun Jetis Sumberagung Bantul.

Komunitas Sego Gurih sudah melakukan hampir seluruhnya 26 produksi pementasan terhitung sejak tahun 1998. Produksi  pertunjukan ini bersifat inisiasi secara swadaya, maupun seleksi acara festival ataupun undangan. Pada tahun 2009 berhenti untuk tidak mengikuti festival, karena dibuat kesepakatan bahwa komunitas ini bukan kelas teater festival.

Aktor formasi awal berdirinyaKomunitas Sego Gurih yaitu Ibnu Widodo, Haryo, Riyanto, Eko Nuryono, Yanto, Asni, Endang, Padmi, Jumali, Nanik dan Totok Hartanto. Semuanya alumni dari SMKI Yogyakarta jurusan teater. Periode sekitar tahun 2002 masuklah formasi baru seperti Puthut Joyo, Bekti Seyani, Philipus Nugroho, Elyandra Widharta, Lukas Priyo, dan Abdillah Yusuf yang mayoritas adalah mahasiswa jurusan teater ISI Yogyakarta. Sampai saat ini ditambah lagi prsonil seperti Joko Gilar, Nurul Jamilah, Yanti, Wawan, Kukuh, Jiban, Dwi Vian, Dafa, Haryo, Pras, Sekar Kinanti, Iyok, Caesar, Madek, Pras, Iwang, Maman, Bagor.
Komunitas yang positif yang kiranya bisa menjadi inspirasi bagi kelompok lain semacam ini untuk terus menggali talenta semakin dalam. Menjadi komunitas yang mampu mengangkat issue-issue kehidupan masyarakat, sejarah dan lain sebagainya dengan cara cerdik, cerdas namun mengemasnya secara apik dalam sebuah karya seni pertunjukan. (chip/Ely)