Harga melambungkan kebutuhan

Kenaikan BBM

TERASWARTA – Warta | Harga bensin naik menyusul juga harga-harga yang lain di pasaran mulai dari lombok sampai telur. Di media televisi juga kita lihat bagaimana di karanganyar, jawa tengah bahkan lombok busuk laku juga di jual. Di Puluhan Hektar Melon Di Lendah, Kulon Progo gagal Panen. Terdengar juga kabar Bantuan langsung dari pemerintah belum sepenuhnya maksimal. Terdengar dan terlihat juga kenaikan harga angkot yang terkadang sampai batas yang tak seharusnya sepert di Brebes yang naik sampai level 3.000 rupiah seperti di beritakan beberapa media masa. Musim pun bahkan ikut tak jelas adanya, hujan sepanjang tahun.

 Semakin berat rasanya hidup dan beban masyarakat. Hal ini yang menjadikan suasana menjadi seakan sangat sensitif bagi semua pihak saat ini. Kehidupan agama tak lagi seharmonis dulu kala, saling sodok, saling kritik, saling hina dan merasa paling benar yang lantas bila berdebat menggunakan akal serta ilmu yang seadanya lalu berbicara seolah telah pernah berkunjung ke surga.

Lelah mungkin masyarakat saat ini dengan kehidupan ekonomi yang makin berat. Pemerintahan seakan menghimpit masyarakat dengan kebijakan masing-masing dengan alasan perbaikan taraf hidup masyarakat. Globalisasi masuk ke ranah kehidupan masyarakat kita yang dikenal dengan kesederhanaan tak urung menyeret pada pola hidup  serba modern.Bila di tanya apakah bangsa ini miskin? Jawaban yang paling tepat adalah tidak.  Mobil mewah bisa terbeli, Motor gede dengan bandrol termahal pun mungkin bisa terbeli, aneka macam handphone canggih dengan harga jutaan rupiah terbeli.  Pergi ke luar negeri bahkan hanya untuk sekedar berbelanja, atau berobat juga sudah hal wajar kita dengar.

Ironi memang bila kita melihat di sisi lain masyarakat  masih banyak yang  bergelut dengan kehidupannya yang serba kekurangan. Memang berat juga membedakan mana yang benar-benar kekurangan atau tidak. Hal ini dikarenakan banyak yang mengemis pun pola hidupnya  bertolak belakang.

Coba kita perhatikan di jalan-jalan atau perempatan, banyak anak-anak yang mengemis hanya untuk membeli rokok, minuman dan bersenang-senang. Sering saya lihat juga bagaimana mereka saat tidak mengemis sibuk dengan handphone  yang telah bercap “smartphone atau blackberry, dll” dan itu tak murah. Bahkan sayapun tak  memilikinya. Lebih miris lagi bila ada yang membiarkan anaknya yang masih kecil mengemis dan ibunya sibuk di pinggir jalan ketawa ketiwi dengan handphone tergenggam ditangan.

Melalui kompasiana ini, mari kita saling menguatkan. Mari menjaga kerukunan di tanah air ini. Bangsa ini telah di enuhi dengan ketidakjujuran. Bangsa ini telah lupa kata toleransi, bangsa ini lupa kata simpati dan empati sehingga yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Yang cukup merasa belum cukup, yang kurang merasa semakin kurang. Abu-abu warna bangsa ini lupa akan warna “merah yang beran”  dan “putih yang suci”. Tidak  jelas seperti tulisanku (chip/*compasiana)