Pertumbuhan ekonomi China mengalami perlambatan sehingga akan berpengaruh pada beberapa sektor perekonomian dalam negeri dan luar negeri. Sebab selama ini China merupakan negara ekspor terbesar dari Indonesia serta sebagai mitra dagang utama Indonesia. Apabila perekonomian China melambat maka akan berpengaruh pada kinerja perdagangan bilateral.

Demikian juga dengan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah menjadi tertekan pergerakannya. Data-data penting dalam negeri menjadi tantangan dalam perekonomian Indonesia. Pada tanggal 1 Agustus 2013 akan dirilis data inflasi Juli dan data ekspor impor. Diperkirakan rupiah masih cenderung konsolodasi pada kisaran Rp 10.240 hingga Rp 10.290 per Dollar AS.

Indeks  manufaktur China  melambat 47,7 sedang Indeks manufaktur China versi HSBC dirilis melemah dari 48,2 menjadi 47,7 dari prediksi 48,6. Di sisi lain, indeks manufaktur Perancis naik dari 48,4 menjadi 49,8 yang diprediksi 48,9. Sedang untuk Indeks manufaktur Jerman naik dari 48,6 menjadi 50,3 yang diprediksi 49,3 serta zona eropa membaik dan mungkin akan memberikan harapan bisa keluar dari resesi ekonomi.

Dari beberapa data ekonomi negara-negara maju tersebut, pasar domestik lebih merespon lemahnya manufaktur China, apalagi China merupakan mitra dagang utama Indonesia sehingga data China bisa memicu menurunnya outlook neraca perdagangan Indonesia.
Data pada Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tahun 2012 nilai investasi dari China ke Indonesia mencapai 600 juta Dollar AS naik 90% dibanding tahun 2011. Sementara volume perdagangan China ke Indonesia tahun 2012 mencapai 66,2 milliar Dollar AS atau naik 94% dari tahun sebelumnya.Untuk terus mendorong fundamental ekonomi dan mempertahankan laju ekonomi domestik pemerintah telah membuat  kebijakan-kebijakan khusus guna mengurangi efek tekanan perlambatan ekonomi China. Pemerintah akan mempertahankan daya beli masyarakat sebagai mesin pertumbuhan nasional juga dari sisi belanja pemerintah antara lain modal, barang dan pegawai. Ketersediaan pangan dan menjaga harga bahan pokok yang sangat berpengaruh pada konsumsi masyarakat. Pemerintah juga sebaiknya menjaga iklim investasi, karena ini merupakan kunci dari inflasi yaitu terjaganya konsumsi untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Yang perlu diperhatikan di kondisi ekonomi sekarang adalah terserapnya tenaga kerja dengan baik pula. Hal yang tidak boleh ditinggalkan juga adalah sektor pertanian, dimana juga akan terganggu dengan impor barang dari luar negeri.

Indikator-indikator ekonomi dari dalam negeri dan luar negeri saling berkaitan satu sama lain dalam perkembangan ekonomi Indonesia. (Christin)