Cerita Reflektif Tentang Mbah Maridjan

Peristiwa meletusnya Gunung Merapi terjadi di Kabupaten Sleman dan sebagian Jawa Tengah sekitarnya pada tanggal 26 Oktober jam 17:02 wib tiga tahun silam masih meninggalkan narasi ingatan tragis bagi masyarakat. Begitu banyak korban meninggal oleh amukan awan panas (wedhus gembel). Hujan abu vulkanik sempat mewarnai kota Yogyakarta sampai beberapa hari. Sebagian warga ikut diungsikan demi keamanan dengan status Merapi yang semakin hari terus berbahaya. Waktu itu daerah untuk pengamanan diperluas menjadi zona 20 km, seluruh pengungsi semakin berhamburan untuk segera meninggalkan daerah sekitar Merapi. Pengungsi tersebar di beberapa lokasi di kota Yogyakarta. Mulai dari kampus, rumah penduduk maupun lembaga pemerintahan. Bahkan pengungsian terjadi harus kelura daerah atau meninggalkan Yogyakarta demi keselamatan dan keamanan. 
Peristiwa yang banyak mengundang simpati dan partisipasi dari berbagai kalangan masyarakat di dalam atau luar Yogyakarta untuk memberikan bantuan berupa materi maupun nonmateri. Khususnya Sleman, Klaten dan Magelang sekitarnya menjadi daerah yang paling parah karena banyak warga ketakutan sehingga harus terpaksa meninggalkan tempat tinggal, ternak, bahkan pekerjaan untuk mengungsi. Aktivitas dan produktivitas masyarakat sekitar Merapi lumpuh total. Apalagi pasar-pasar tradisonal di kota yang selama ini menggantungakan pasokan sayuran dari sekitar lereng Merapi, mulai susah mendapatkan distribusi bahan pangan waktu itu.
Satu yang masih teringat dalam ingatan sejenak ialah sosok lelaki biasa dan sederhana. Polos dan lugu yang pernah menjadi ikon dalam produk jamu, yang selalu meneriakan “rosa-rosa”. Lelaki dengan baju batik dan pecis serta sarung yang identik menjadi ciri khasnya sebagai juru kunci gunung berapi. Mas Penewu Surakso Hargo atau lebih dikenal denganMbah Maridjan Sang Juru Kunci Merapi. Mbah Maridjan meninggal bersama amukan awan panas yang menerjang sekitar desanya yaitu Kinahrejo. Jenazah Mbah Marijan dievakuasi kemudian ditemukan dalam keadaan bersujud. Kematian yang dihadapi dengan berserah diri kepada kuasaNya. Proses penguburan jenazah almarhum banyak dihadiri tokoh ternama bahkan selebritis. Semua merasa kehilangan figur yang eksentrik itu. Kinahrejo seolah kehilangan sosok yang pribadi yang otentik, dimana dusun kecil ini sering menjadi jujugan banyak para pendaki gunung dari seluruh nusantara bahkan mancanegara. Ya, semua pendaki gunung Merapi dari arah selatan sebelum mendaki biasanya harus sowan dulu matur sama Mbah Maridjan. 
Sosok beliau dikenang dengan pembicaraan yang kemudian melahirkan opini publik begitu beragam. Media massa memberitakan mulai dari manusia yang skeptis dengan teknologi ataupun “pembelot” kecanggihan hight tech. Ataupun sosok yang dianggap mulai berani tak mengindahkan Sultan HB X dari keraton sebagai kiblat kultural masyarakat Yogyakarta. Semuanya hanya argumen dan persepsi orang silahkan saja. Toh Mbah Maridjan tetap teguh pada prinsip panggilan hidupnya. Bahwa Merapi sudah bagian dari manunggaling kawula Gusti.
Mbah Maridjan menjadi satu paket perbincangan segala lapisan masyarakat. Bahkan salah satu produk yang pernah memakai beliau sebagai “brand” produknya masih sempatkan membuat tayangan terakhir pasca meninggalnya. Semua yang dibaca adalah kekuatan dan citra seseorang juru kunci gunung berapi yang begitu polos. Namun beliau memproyeksikan citra seorang abdi yang begitu setia memegang perintah Sultan HB IX. Beliau dahulu diperintahkan oleh Sultan HB IX untuk menjaga Gunung Merapi mulai tahun 1970. Menjaga harmoni dan segala penghidupan baik lingkungan maupun segi pemeliharaan ritual yang berbasis keluhuran nilai-nilai tradisi. Merapi bagaikan jagat kecil yang kasat mata pemberian Tuhan. Senantiasa dijaga layaknya kearifan yang terus melekat pada pola tradisi Jawa. 
Mbah Maridjan memang bukan bagaikan pemuka orang beriman bagi relasi sosialnya di sekitar Merapi. Ia hanya seroang sudrayang mengabdi dengan yang ia yakini. Bahkan kematian pun mengokohkan ia menjadi seorang satria yang tetap tak mau meninggalkan apa yang sudah diamanahkan. Amanah agung Gunung Merapi.  Takdir Mbah Maridjan memang bukan untuk lari sebagai pengungsi, kuasa Tuhan sudah mengatur segala perjalanan manusia. 
Bahkan Van Peursen dalam strategi kebudayaan ia membagi ke dalam jenis pemikiran manusia menjadi tiga yaitu : Pertama, mitis ialah pola pikir bahwa ada hal-hal yang tak terjangkau oleh pikiran manusia. Segala sesuatu yang bergerak didunia dikepung oelh dunia gaib dan roh. Kedua, ontologi ialah pemahaman nilai yang berhubungan dengan hakikat manusia. Bahkan tak mempedulikan lagi dengan mitis. Ketiga fungsional ialah pikiran dan pertimbangan yang logis dan masuk akal (kausal). Mengkonstruksi ulang yang terbebas dari mitis. 
Pola pikir modern menganggap bahwa kematian beliau menyisakan sekejap ungkapan disayangkan ketika usaha menungsi tidak dilakukan. Ini balutan pola modern yang tergerus dengan prespektif teknologi serba kecanggihan. Adat dan tradisi memang bukan harga mati, namun baju keluhuran budaya yaitu menjadi manusia Jawa masa kini adalah pilihan. Semuanya boleh mengimani dan mengamini yang mana saja. Terlepas memang manusia (mikrokosmos) hanyalah bagian jagat kecil dari kehidupan alam ini (makrokosmos). Namun ada hal penting yang selalu menjadi penanda manusia Jawa ; yaitu kearifan lokal. Di saat dunia sudah mulai tergerus dengan segala percepatan budaya, sejarah ataupun peradaban. Hilangnya nilai yang bertumpu pada identitas diri mulai dirasakan manusia. Hidup menjadi sekedar mesin berjalan melaju bagaikan sudah terstruktur dalam bingkai teknologi. Mengenai alam bahkan bencana manusia tidak lagi perlu mendeteksi dengan kekuatan naluri. Padahal sebelum teknologi lahir kekuatan itu dimiliki karena kesediaan untuk memelihara tanda dalam diri melalui penyerahan hidup (laku diri) kepada Sang Semesta. Membaca tanda dunia sama dengan mampu membaca diri tubuh manusia itu sendiri ketika harus berhadapan dengan seluruh energi yang mengitarinya. 
Bencana memang bukan dikehendaki manusia untuk terjadi dengan terprediksi, tetapi perputaran waktu (cakramanggilingan) itu sudah menjadi jadwal keberangkatan peristiwa di dunia atas kuasaNya. Mbah Marijan hanya salah satu contoh refleksi kematian yang boleh dipahami dengan toleransi bersama, bahwasanya menjadi seorang abdi untuk memegang teguh amanah walau nyawa menjadi tebusan terkahir. Apa kuasanya abdi ? kecuali hanya setia dan taat pada amanah yang sudah menjadi manunggaling hidupnya. 
Beliau sudah memantapkan diri sebagai juru kunci bukanlah sekedar profesi belaka melainkan panggilan hidup. Juru kunci bertugas menjaga Gunung, tetapi ada sekawanan wilayah Gunung yang terdiri dari jagat-jagat kecil disekitarnya. Penghormatan itu yang terus dikerjakan untuk menjaga keseimbangan. Menjadi rekan ritual tradisi Jawa untuk memelihara gunung, sungai, tanah, tumbuhan dan segala ekosistem Merapi. Kearifan lokal yang patut dimaknai sebagai dasar laku kehidupan.  Hikmah yang boleh dipetik dari cerita ini adalah konsistensi, kesetiaan, pengabdian, berserah diri dan rendah hati sebagai manusia. Manusia Jawa yang sejati kembali kepada Manunggaling Kawula Gusti. [Elyandra Widharta]