Berkunjung ke Rumah Seniman Nasirun

Rumah seniman Nasirun
TERASWARTA – Opini  | Rumah sebagai tempat tinggal sebuah keluarga ternyata mempunyai fungsi dan makna estetika yang lain. Dimaknai tidak sekedar ruang yang menghangatkan ketika tidur dan berteduh ketika alam silih berganti. Pemandangan sekitar rumah menjadi rangkaian elemen-elemen artistik yang menyatu dibiarkan dengan alam dan lingkungan sekitar. Itulah sekilas gambaran mengenai rumah seniman Nasirun. 
Perupa kaliber internasional ini memiliki rumah yang sekaligus sebagai studio dan galeri dimana dipamerkan karya-karya pribadinya. Tidak sekedar mendukung hiasan ruangan dan interior semata namun dibeberapa sudut ruangan karya Nasirun menjadi hidup karena goresan bergambar wayang dan mitologi Jawa. Kunjungan ini dilakukan dalam sebuah program Studio Visit yang diinisiasi oleh ArtJog13 pada hari Senin 15/6/13, dengan mengunjungi rumah seniman salah satunya Nasirun. Rumah tinggal yang begitu asri dipenuhi tanaman langka dan koleksi benda unik berada di Perumahan Bayeman JL. Wates Yogyakarta. 
Begitu datang sampai depan rumah, rombongan pengunjung disambut sapa salam dengan senyum ramah yang sangat low profile. Nasirun sebagai perupa merupakan pelukis yang menjadi perbincangan dikancah dunia seni rupa kontemporer Indonesia. Karya-karya bertema tentang wayang dan tafsir ulang atas tradisi Jawa dalam konteks kekinian. Figur-figur wayang tidak lagi diterjemahkan dalam bentuk asli namun ditafsir menjadi sosok-sosok baru dan tidak meninggalkan spirit wayang itu sendiri. 
Perupa kelahiran Cilacap 1 Oktober 1965 ini memulai prosesnya sebagai seniman, awalnya belajar di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) tahun 1983. Hijrah ke Yogyakarta pertama kali langsung mempelajari batik, mengukir sekaligus tatah sungging wayang. Lulus dari SMSR yang dulu bernama Sekolah  Seni Rupa Indonesia (SSRI) langsung masuk di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) pada tahun 1987 karena tidak diterima di Institut Teknologi Bandung. 
Rumah dimana ia tinggal penuh dengan karya lukisan yang berspirit seni tradisi mengenai wayang, pedesaan, dan figur-figur tokoh yang disandingkan dengan tradisi. Rumah inilah dalam guyonan ia menyebutnya “ini bukan galeri seni rupa atau museum, ini adalah mini market art” sambil tertawa lepas. Nasirun adalah sosok seniman yang rendah hati, ia meladeni semua pertanyaan para pengunjung yang ingin tahu lebih dalam mengenai filosofi setiap goresan tangannya. Nasirun menyebutkan disela ia menggambarkan tema-tema lukisannya “wayang merupakan warisan budaya yang bercitarasa tinggi, tradisi dan peradaban besar banyak didapatkan dari cerita dan mitologi dalam perwayangan” tuturnya. 
Disisi sebelah barat rumahnya yang hanya berates dengan jalan dan sungai kecil ada sebah bangunan yang mirip galeri lukisan. Ruang ini adalah sebagai ruang koleksi para seniman pendahulu yang namanya melejit di tahun itu namun secara ekonomi kurang beruntung. Nasirun memfasilitasi itu menjadikan karya koleksi pribadi dan itu bisa diapresiasi oleh masyarakat. Untuk saat ini masih digratiskan namun akan segera dibuka dan akan menggunakan tiket masuk sebagai bentuk penghargaan terhadap karya seni seniman legendaris Indonesia. Salah satu lukisan tertua yaitu terdapat lukisan tahun 1912 dan sebagian besar lukisan yang dimulai tahun 1950-an. 
Seni instalasi yang menjadi perhatian pengunjung yaitu ruang studionya berkarya banyak tergantung instalasi kelapa yang berwarna-warni di langit-langit atap. Nasirun menyebutkan hal itu sebagai makna dan doa-doanya kepada Tuhan dalam perjalanan kesenimanannya. [Elyandra Widharta]