Angkringan tak seperti yang dikira

Ekonomi dan Bisnis

TERASWARTA – Opini | Bosan dengan makanan yang itu-itu saja? Ada banyak tempat yang bisa menjawab kebosanan kita. Hal ini juga lantaran kita bisa temukan berbagai menu makanan dengan mudah, menu yang bisa kita dapatkan diberbagai tempat kuliner yang saat ini merebak di mana-mana.

Apabila tempat-tempat yang notabene adalah tempat “istimewa” dengan menu-menu yang serba wah, rasanya sesekali perlu juga anda merasakan menu makanan di angkringan. Angkringan ini pada awalnya memang dikenal sebagai tempat makannya orang-orang dengan dompet tipis. Tempat makan dengan menu makanan nasi kucing dan gorengan. Bungkusan nasi kecil yang identik dengan sambel teri atau sambel kering tempe.

Saat ini, anggapan tentang hal di atas telah tersingkirkan. Para pebisnis kuliner sudah mulai mengemas dengan konsep yang berbeda. Hal ini bisa kita temui di berbagai tempat di Yogyakarta. Semakin banyak menu nasi yang ditawarkan termasuk lauk-lauknya. Ada nasi teri, nasi tempe, nasi jamur, nasi rica-rica dan banyak lagi. Lauknya juga sudah beraneka macam seperti kepala ayam, cakar ayam, sate usus, sate brutu, dll. Tempatnya  bisa anda temukan di depan kantor Kedaulatan Rakyat, Jalan Magelang, dan bayak tempat lain lagi.

Apabila anda ingin mencoba angkringan yang berasal dari kata “nangkring” yakni duduk di atas kursi dengan kaki di atas dan santai, maka angkringan inilah jawabannya. Makan di angkringan ini juga akan lain nuasanya karena orang bisa saling akrab sana-sini dengan bebas, saling bercanda dan berbagi cerita tanpa ada batasan layaknya di restoran-restoran yang duduk dengan meja serta kursi masing-masing.

Bisnis ini juga semakin menjanjikan lantaran bisa dikemas juga dengan adanya Wifi (hot spot) sehingga orang akan semakin betah bertahan duduk lama. Tempat juga bisa dibuat tak harus selalu remang dengan kompor yang jadi satu dengan gerobak. Jadi tak harus malu pergi mencoba menu-menu angkringan saat ini. Sudah jadi hal umum juga makan di tempat ini tanpa  harus berfikir tentang kelas. Dan jangan salah, makan di angkringan ini pun anda akan bisa menghabiskan uang lebih banyak dari makan di restoran umum. Kenapa? Karena bila dari minuman cocok, jajanan cocok, ngobrol cocok tanpa sadar satu demi satu makanan akan masuk ke perut kita.

Dan tahukah anda bahwa bisnis ini juga membutuhkan pola piker dan rencana yang matang. Lantaran berbisnis angkringan ini harus menciptakan hubungan lebih dari sekedar pelanggan membeli berulang atau pelanggan bertahan. Harus juga berfikir tentang hubungan yang mengimplikasikan loyalitas, emosi dan perasaan positif terhadap sesuatu atau seseorang. Seorang pedagang akringan yang “cerdik dan cerdas” akan mampu tentunya menanggapi  saat seorang pelanggan berbicara tentang banyak hal. Pedagang angkringan juga harus tahu bagaiman menyikapi komentar pelanggan akan makanan yang disajikan. Tentang ungkapan rasa enak, rasa senang dan merasa laparnya telah hilang atau sebaliknya sehingga bisa terus memperbaiki pelayanan sesuai harapan pelanggan.

Strategi yang tak cukup sederhana tetapi jelas butuh fokus. Strategi yang sebanarnya tak hanya dilakukan oleh seorang pedagang angkringan, tetapi sesungguhnya strategi hubungan pelanggan merupakan strategi bisnis yang paling modern. Cukup multi rasa bukan, tak sesederhana yang kita kira. (chipriant)